Rabu, 24 November 2010

PROFIL PNFI Kab. Sumedang Tahun 2010

II.  KEADAAN PENDIDIKAN NONFORMAL

Keberadaan pendidikan nonformal melengkapi keberadaan pendidikan formal untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat. Pendidikan nonformal bersifat luwes bila dibandingkan dengan pendidikan formal. Keluwesan pendidikan nonformal berkenaan dengan waktu belajar, usia peserta didik, isi pelajaran, cara penyelenggaraan pengajaran, dan cara penilaian hasil belajar. Pendidikan nonfomral mampu memberikan ruang gerak yang lebih leluasa bagi peserta didik dan pendidik dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
   
 Dengan sasaran yang sangat besar dan multisegmen, dari usia dini sampai usia lanjut, dari putus sekolah sampai yang berkeinginan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis, pendidikan nonformal mampu menerapkan semboyan ”melayani yang tak terlayani”.
    
Profil pendidikan nonformal ini ingin memberikan gambaran berkaitan dengan sasaran program-program pendidikan nonformal seperti yang diamanatkan oleh Rencana Strategi Pendidikan. Pada rencana tersebut terdapat tiga pilar kebijakan, yaitu

1.      Pemerataan dan perluasan akses pendidikan,
2.      Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan, dan
3.      Tata kelola, akuntabilitas citra publik pendidikan.

    Kebijakan tersebut juga termasuk untuk pendidikan nonformal. Penilaian ketiga kebijakan tersebut dilihat dari beberapa indikator kunci kebijakan. Pemilihan indikator-indikator tersebut ditetapkan sesuai dengan data pendidikan nonformal yang tersedia, sehingga tidak mencakup keseluruhan indikator. Diharapkan bahwa dengan gambaran berdasarkan indikator tersebut bisa bermanfaat sebagai bahan masukan bagi perumusan kebijakan dan pembangunan pendidikan nonformal pada khususnya.
   
Pendataan Pendidikan Nonformal yang dikelola dan dijaring oleh Pusat atau Kemendiknas selama ini terdiri dari tujuh jenis, yaitu 1) Keaksaraan Fungsional (KF), 2) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), 3) Kesetaraan, 4) Kursus, 5) Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH), 6) Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan 7) Taman Bacaan Masyarakat (TBM).

Gambaran umum Pendidikan Non Formal di Kab. Sumedang 2010 disajikan pada tabel 1 di bawah ini





Tabel 1
DATABASE PNFI 2010 Kab. Sumedang.
NO
PROGRAM KEGIATAN
JUMLAH
LEMBAGA
PENGELOLA
PESERTA/WB
PENDIDIK/TUTOR
BUKU
L
P
L
P
L
P
JUDUL
EKSP.
1
KEAKSARAAN FUNGSIONAL
63
16
51
49
2.646
12
79


2
KELOMPOK BERMAIN
517
216
374
7484
9771
69
1878



SPS
19
2
19
252
299
2
82



TPA
2
1
1
22
19
1
1


3
KURSUS
67
78
76
854
436




4
LIFE SKILLS
28


93
263




5
PKBM
68
61
10
81
183




6
PAKET A
11
4
15
190
159
3
29



PAKET B
40
31
39
588
474
116
148



PAKET C
27
23
26
491
380
106
129


7
TBM
42
97
157
2346
1939


7533
37822

Jumlah
884
529
768
12.450
16.569
309
2.346
7533
37822

 
Sumber  : padati WEB SKB Sumedang 2010

Sumber : SIM PTK-PNF 2010 SKB Sumedang

A.                 Program Pendidikan Nononformal

Tidak semua kabupaten menangani semua program PNF. Pada saat ini, Kab. Sumedang memiliki pendidikan nonformal yang terdiri dari 7 jenis, yaitu 1) KF, 2) PAUD, 3) Kesetaraan, 4) Kursus, 5) PKBM, 6).TBM dan 7) PKH Bila dilihat dari lembaganya maka hanya terdapat tiga jenis program yang memiliki, lembaga yaitu sejumlah 538 lembaga PAUD yang terdiri dari 517 Kelompok Bermain, 2 Taman Penitipan Anak, dan 19 Satuan PAUD Sejenis; 67 lembaga kursus; dan 68 lembaga PKBM. Jenis program PNF yang tidak memiliki lembaga ternyata memiliki kelompok belajar, yaitu sejumlah 63 untuk KF, 78 untuk kesetaraan yang terdiri dari .11 Paket A, 40. Paket B, dan .27 Paket C
Dilihat dari peserta didik, ternyata peserta didik PAUD yang memiliki jumlah terbesar (17.355 anak) diikuti KF ( 2695 orang) kesetaraan ( 2.282 .orang)., dan terkecil adalah kursus ( 1290 orang) peserta didik Dari lima jenis program PNF, ternyata yang ada ujian hanya KF, Kesetaraan, dan Kursus dengan masing-masing 2,586 orang, 1496 orang , dan 637 orang.
Dengan demikian, yang lulus juga dari tiga program tersebut, yaitu masing-masing KF 2585 orang, kursus 637 orang. dan Kesetaraan 1457 orang Kelima jenis program ini dikelola oleh penyelenggara yang terbesar adalah program (KF) dan terkecil adalah program Kesetaraan. Walaupun penyelenggara .KF yang terbesar namun pendidik terbesar terdapat di Kesetaraan (633 orang) dan terkecil adalah program kursus (.154.ORANG).
Secara rinci, pembangunan di setiap program pendidikan nonformal tidak sama. Oleh karena itu, Penjabaran program-progam tersebut diuraikan pada bagian gambaran umum.

1.   Keaksaraan Fungsional

Pemberantasan buta aksara merupakan salah satu prioritas Depdiknas karena keterkaitan yang sangat erat dengan tingkat keberhasilan pembangunan suatu bangsa. Semakin banyak penderita buta aksara, semakin miskin pula negara tersebut.
Pendidik yang merupakan guru adalah 91 orang ( 2 %) sedangkan yang bukan guru adalah 79 orang (.1.6 %). Sejumlah ... orang pendidik telah menjalani pelatihan (.80 %) sedangkan 19 orang belum pernah dilatih ( 20 %). Tingkat pendidikan dari pendidik keaksaraan fungsional pada umumnya adalah lulusan SMA sebanyak 51orang ( 27,7 %), diikuti dengan diploma sebanyak 15 orang (.8.3.%), SMP/MTs sebanyak 9 orang (1.8 %), dan S1/S2 sebanyak 25 orang (13.8%). Komposisi tingkat pendidikan tersebut mencerminkan kelayakan mengajar yang sangat rendah yang hanya berjumlah 60.%. Selain itu, tingkat pelatihan yang hanya berjumlah 80.% mencerminkan kebutuhan peningkatan mutu tenaga pendidik keaksaraan fungsional di Kab. Sumedang

Adapun lulusan yang telah dihasilkan oleh program keaksaraan fungsional di Kab. Sumedang adalah 2.225 orang.
TABEL 4
JUMLAH KELOMPOK,WB,SUKMA,TUTOR DAN PENGELOLA
KEAKSARAAN FUNGSIONAL KAB. SUMEDANG 2010
No.
Kecamatan
Kelompok
Warga
SUKMA
Tutor
Pengelola
Belajar
Belajar







1
Jatinangor
9
130
130
9
9
2
Cimanggung
5
120
120
6
5
3
Tanjungsari
4
210
205
6
4
4
Rancakalong
7
150
150
8
7
5
Sumedang Selatan
5
220
210
8
6
6
Sumedang Utara
1
150
150
3
1
7
Situraja
4
180
180
6
4
8
Darmaraja
0
0
0
0
0
9
Cibugel
0
0
0
0
0
10
Wado
0
0
0
0
0
11
Tomo
1
90
90
2
1
12
Ujung Jaya
3
170
170
5
3
13
Conggeang
1
150
150
3
2
14
Paseh
0
0
0
0
0
15
Cimalaka
1
140
140
3
1
16
Tanjungkerta
1
60
60
2
1
17
Buah Dua
1
120
120
2
2
18
Ganeas
1
110
110
2
1
19
Jati Gede
1
90
90
2
1
20
Pamulihan
10
145
50
11
10
21
Cisitu
1
100
100
3
1
22
Jatinunggal
1
100
100
2
2
23
Cisarua
1
20
20
1
1
24
Tanjungmedar
1
100
100
2
1
25
Surian
1
110
110
2
1
26
Sukasari
3
30
30
3
3
J u m l a h
63
2,695
2,585
91
67

2. Pendidikan Anak Usia Dini
Usia dini (0-6 thn) merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seorang anak serta pengembangan intelegensi permanen untuk menyerap informasi. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Tabel 5
Gambaran Umum Pendidikan Anak Usia Dini
Kab. Sumedang Tahun 2009
     No.
Provinsi
 Lembaga 
 Peserta Didik  
 Pendidik 
 Pengelola 
1
Jatinangor
13
443
44
13
2
Cimanggung
8
310
35
8
3
Tanjungsari
67
1,772
242
67
4
Rancakalong
19
714
63
19
5
Sumedang Selatan
53
1,755
241
53
6
Sumedang Utara
32
1,217
120
32
7
Situraja
18
529
83
34
8
Darmaraja
23
687
76
37
9
Cibugel
25
631
92
48
10
Wado
11
361
36
11
11
Tomo
9
191
32
9
12
Ujung Jaya
10
362
45
10
13
Conggeang
17
374
45
24
14
Paseh
23
2,515
89
23
15
Cimalaka
25
745
100
25
16
Tanjungkerta
18
520
80
18
17
Buah Dua
13
321
43
13
18
Ganeas
9
316
35
9
19
Jati Gede
5
105
18
5
20
Pamulihan
38
788
114
38
21
Cisitu
8
218
31
17
22
Jatinunggal
36
1,303
128
36
23
Cisarua
5
147
16
5
24
Tanjungmedar
9
374
34
9
25
Surian
11
303
40
11
26
Sukasari
35
826
155
39
J u m l a h
540
17,827
2,037
613
* Sumber padatiWEB SKB Sumedang

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio-emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Program ini dikembangkan dalam upaya pembinaan bagi anak usia dini (0-6 tahun) secara integratif dan holistik, mencakup aspek pendidikan, kesehatan dan gizi yang dilakukan di lingkungan yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, agar anak kelak mempunyai kesiapan memasuki pendidikan dasar.
Perkembangan pendidikan anak usia dini di Kab. Sumedang telah berjalan dengan baik yang ditandai dengan banyaknya lembaga pendidikan anak usia dini, yaitu sejumlah 538 lembaga, yang terdiri dari 517 Kelompok Bermain, 2Tempat Penitipan Anak, 2, dan 19 Satuan PAUD Sejenis.
Dengan melihat kategorisasi pendidik pada program-program pendidikan anak usia dini, bisa diketahui bahwa semua pendidik pada program ini belum pernah mendapatkan pelatihan. Oleh karena itu, diperlukan perancangan dan pelaksanaan program pelatihan yang intensif dan terpadu demi meningkatkan kualitas sumber daya pendidik pada program PAUD di Kab. Sumedang
2.1. Kelompok Bermain

Jumlah lembaga kelompok bermain di Kab. Sumedang adalah 517 lembaga. Pendidik pada program kelompok bermain adalah 1947 orang, dengan 51 orang guru (2.0%) dan1886 orang bukan guru (98%). Dari keseluruhan pendidik ternyata pernah mendapatkan pelatihan 832 orang (43%) dan belum pernah mendapatkan pelatihan 1,115 orang (57%). Adapun tingkat pendidikan dari pendidik kelompok bermain sebagian besar merupakan lulusan SMA/MA yaitu sejumlah 1.084 orang (.55.6 %), lulusan SI/S2 sejumlah 112 orang (5.8%), dan lulusan diploma sejumlah 751. orang (38.6.%).

TABEL 6
JUMLAH KELOMPOK BERMAIN KAB. SUMEDANG
No.
Kecamatan
Lembaga
Peserta Didik
Pendidik
Pengelola
1
Jatinangor
13
443
44
13
2
Cimanggung
8
310
35
8
3
Tanjungsari
58
1,554
205
58
4
Rancakalong
19
714
63
19
5
Sumedang Selatan
49
1,674
227
49
6
Sumedang Utara
32
1,217
120
32
7
Situraja
16
451
74
32
8
Darmaraja
23
687
76
37
9
Cibugel
24
603
85
47
10
Wado
11
361
36
11
11
Tomo
9
191
32
9
12
Ujung Jaya
10
362
45
10
13
Conggeang
17
374
45
24
14
Paseh
23
2,515
89
23
15
Cimalaka
25
745
100
25
16
Tanjungkerta
18
520
80
18
17
Buah Dua
13
321
43
13
18
Ganeas
9
316
35
9
19
Jati Gede
5
105
18
5
20
Pamulihan
38
788
114
38
21
Cisitu
8
218
31
17
22
Jatinunggal
36
1,303
128
36
23
Cisarua
3
92
10
3
24
Tanjungmedar
7
329
26
7
25
Surian
9
273
36
9
26
Sukasari
34
789
150
38
J u m l a h
517
17,255
1,947
590
Sumber : padatiWEB SKB Sumedang 2010

Penyelenggara program kelompok bermain berjumlah 590 orang, dengan  penyelenggara yang pernah dilatih berjumlah 120 orang (20.3 %) sedangkan yang belum pernah dilatih sejumlah 1747 orang (79.7%). Adapun tingkat pendidikan penyelenggara terdiri dari 241 orang SMA/MA (.40.8 %),123orang diploma (20.8%), dan 226 orang S1/S2 (38.3%).
Peserta didik kelompok bermain terdiri berjumlah 17.255 orang yang terdiri dari 7484 laki-laki (44.2.%) dan 9771perempuan (65.7%). Semua peserta didik tersebut berusia 2-6 tahun (100%). Adapun sumber dana penyelenggaraan program Kelompok Bermain yang berasal dari APBN, yaitu (0%) dan yang berasal dari APBD, yaitu (0%), sementara yang berasal dari Yayasan, yaitu sejumlah  (5%), yang berasal dari para peserta, yaitu (.85%), yang berasal dari lainnya, yaitu (.10%).

2.3. . Satuan PAUD Sejenis
Satuan PAUD Sejenis (SPS) di Kab. Sumedang berjumlah 19 lembaga, dengan pendidik berjumlah 84 orang dimana 0 orang guru (0%) dan 82 orang bukan guru (100 %). Dari keseluruhan pendidik ternyata pernah mendapatkan pelatihan (80%) dan belum pernah mendapatkan pelatihan (20%). Akan tetapi, semua pendidik belum pernah mendapatkan pelatihan. Tingkat pendidikan dari pendidik SPS pada umumnya adalah lulusan SMA sejumlah 71 orang (86.5%), lulusan S1/S2 sejumlah 3 orang (3.5%) dan lulusan diploma sejumlah 10 orang (12%).
Penyelenggara SPS berjumlah 21 orang yang semuanya belum pernah mendapatkan pelatihan (14%). Adapun tingkat pendidikan dari penyelenggara SPS Sejenis adalah lulusan S1/S2 sejumlah 2 orang (10 %), SMA sejumlah 10 orang (48%) dan diploma sejumlah 9 orang (42%). Peserta didik SPS keseluruhan berjumlah 551 orang yang terdiri dari 252 orang laki-laki (45.7 %) dan 299 orang perempuan (54.3%), dengan usia 2-4 tahun (80%).

TABEL 7
No.
Kecamatan
Lembaga
Peserta Didik
Pendidik
Pengelola






1
Jatinangor
0
0
0
0
2
Cimanggung
0
0
0
0
3
Tanjungsari
9
218
37
9
4
Rancakalong
0
0
0
0
5
Sumedang Selatan
2
60
8
2
6
Sumedang Utara
0
0
0
0
7
Situraja
2
78
9
2
8
Darmaraja
0
0
0
0
9
Cibugel
1
28
7
1
10
Wado
0
0
0
0
11
Tomo
0
0
0
0
12
Ujung Jaya
0
0
0
0
13
Conggeang
0
0
0
0
14
Paseh
0
0
0
0
15
Cimalaka
0
0
0
0
16
Tanjungkerta
0
0
0
0
17
Buah Dua
0
0
0
0
18
Ganeas
0
0
0
0
19
Jati Gede
0
0
0
0
20
Pamulihan
0
0
0
0
21
Cisitu
0
0
0
0
22
Jatinunggal
0
0
0
0
23
Cisarua
2
55
6
2
24
Tanjungmedar
2
45
8
2
25
Surian
2
30
4
2
26
Sukasari
1
37
5
1
J u m l a h
21
551
84
21
Sumber :padati WEB SKB Sumedang

3.   Kesetaraan
Pendidikan kesetaraan adalah jalur pendidikan nonformal dengan standar kompetensi lulusan yang sama dengan sekolah formal, tetapi isi, konteks, metodologi, dan pendekatan untuk mencapai standar kompetensi lulusan tersebut lebih memberikan konsep-konsep terapan, tematik, induktif, yang terkait dengan permasalahan lingkungan dan melatihkan kecakapan hidup berorientasi kerja atau berusaha mandiri.
Berkaitan dengan itu, sistem pembelajaran (delivery system) dirancang sedemikian rupa agar memiliki kekuatan tersendiri, untuk mengembangkan kecakapan komperehensif dan kompetitif yang berguna dalam peningkatan kemampuan belajar sepanjang hayat. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan yang lebih induktif dan konstruktif.

Tabel.8
JUMLAH KELOMPOK,WB,PST UJIAN, LULUSAN DAN PENGELOLA
KESETARAAN DI KABUPATEN SUMEDANG 2010

No.
Kecamatan
Kelompok
Warga
Peserta Ujian
Lulusan
Tutor
Pengelola
Belajar
 Belajar 
1
Jatinangor
3
92
49
49
19
5
2
Cimanggung
16
487
386
386
80
34
3
Tanjungsari
14
387
199
199
135
34
4
Rancakalong
3
44
44
44
18
5
5
Sumedang Selatan
4
104
74
74
17
5
6
Sumedang Utara
3
94
65
65
18
3
7
Situraja
3
103
53
53
17
3
8
Darmaraja
1
20
20
20
6
1
9
Cibugel
4
137
57
57
23
8
10
Wado
2
40
40
40
12
2
11
Tomo
1
41
41
41
6
1
12
Ujung Jaya
3
84
34
34
15
3
13
Conggeang
2
40
40
40
9
2
14
Paseh
0
0
0
0
0
0
15
Cimalaka
3
75
55
55
18
3
16
Tanjungkerta
2
52
52
52
12
2
17
Buah Dua
2
53
28
28
11
2
18
Ganeas
1
39
9
9
6
2
19
Jati Gede
0
0
0
0
0
0
20
Pamulihan
3
87
56
47
18
3
21
Cisitu
2
44
44
44
12
2
22
Jatinunggal
2
34
34
34
12
2
23
Cisarua
2
36
36
36
12
2
24
Tanjungmedar
1
8
8
8
6
1
25
Surian
2
53
53
53
12
2
26
Sukasari
5
126
46
46
31
11
J u m l a h
84
2,280
1,523
1,514
525
138
Sumber: SIM PNHIl Kab. Sumedang, 2009.

Program kesetaraan terdiri dari program paket A setara SD, paket B setara SMP, dan paket C setara SMA.  Program paket A dan B dirancang untuk menunjang suksesnya Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun (Wajar Dikdas) dengan prioritas anak usia Wajar Dikdas (7-15 tahun) yang karena berbagai hal terpaksa tidak bisa mengikuti pendidikan di sekolah. Meskipun demikian, Paket A dan Paket B juga memberi kesempatan bagi orang dewasa yang belum memiliki pendidikan setara Pendidikan Dasar 9 tahun, dengan biaya sendiri jika anggaran yang bersumber dari pemerintah tidak mencukupi.

Adapun program paket C setara SMA dirancang untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi warga masyarakat yang belum memiliki pendidikan setara SMA. Kurikulum disusun berdasarkan kurikulum SMA jurusan IPS. Bahan belajar disusun dalam bentuk modul, yang memungkinkan warga belajar dapat belajar mandiri.
3.1. Paket A Setara SD
Jumlah lembaga Paket A Setara SD di Kab. Sumedang adalah 11 lembaga. Pendidik pada program Paket A setara SD adalah 32. orang, dimana 3 orang laki-laki (.9.4.%) dan 29 orang perempuan (.9.6..%. Dari keseluruhan pendidik, sebanyak 26 orang sudah dilatih (.80.%) dan 6 orang belum pernah mendapatkan pelatihan (.20 %). Adapun tingkat pendidikan dari pendidik Paket A Setara SD sebagian besar merupakan lulusan SI/S2 yaitu sejumlah 5 orang (.16%), lulusan SM/MA sejumlah 16 orang (.50.%), dan lulusan diploma sejumlah ..11 orang (34.%).
Penyelenggara program Paket A setara SD berjumlah 19. orang, dengan  penyelenggara yang pernah dilatih berjumlah 9 orang (.48.%) sedangkan yang belum pernah dilatih sejumlah 10 orang (.52..%). Peserta didik  berjumlah . 349.. orang yang terdiri dari 190 orang laki-laki (.57%) dan 159.. orang perempuan (.43.%), dengan usia 16-18 tahun berjumlah .174 orang (49.%), 19-24 tahun berjumlah 118 orang (.32.%), dan >24 tahun berjumlah 57 orang (.18.%). Dari jumlah peserta didik tersebut, sebanyak 329 orang menjadi peserta ujian dengan lulusan sebanyak .290 orang.
Adapun sumber dana penyelenggaraan program Paket A setara SD yang berasal dari APBN, yaitu sejumlah Rp...63.360 (.100%), yang berasal dari APBD (provinsi), yaitu sejumlah Rp 0 (.0%), yang berasal dari APBD (kab/kota), yaitu sejumlah Rp 0 (.0%),  sementara yang berasal dari Yayasan, yaitu sejumlah Rp0 (.,0%), yang berasal dari para peserta, yaitu sejumlah Rp.0,0 (.0.%), yang berasal dari lainnya, yaitu sejumlah Rp0,0 (.0.%).
3.2. Paket B Setara SMP
Jumlah lembaga Paket B Setara SMP di Kab. Sumedang adalah . 40.. lembaga. Pendidik pada program Paket B setara SMP adalah 264 orang, dimana 116 orang laki-laki (.44.%) dan 148 orang perempuan (.56.%). Dari keseluruhan pendidik, sebanyak 60 orang sudah dilatih (38 %) dan 88 orang belum pernah mendapatkan pelatihan (.62.%). Adapun tingkat pendidikan dari pendidik Paket A Setara SD sebagian besar merupakan lulusan SMA/MA yaitu sejumlah 27. orang (.9.%), lulusan diploma sejumlah 57 orang (.21.%), dan lulusan S1/S2 sejumlah 186 orang (.70.%).
Penyelenggara program Paket B setara SMP berjumlah . 70 orang, dengan  penyelenggara yang pernah dilatih berjumlah 51 orang (.73.%) sedangkan yang belum pernah dilatih sejumlah 19 orang (.27.%). Adapun tingkat pendidikan penyelenggara terdiri dari 3 orang SMA/MA (.4.%), 63. orang diploma (.74.6.%), dan .15.. orang S1/S2 (.21.4..%). Peserta didik  berjumlah . 1062 orang yang terdiri dari 588. orang laki-laki   ( .54 %) dan 474.. orang perempuan ( 46%), dengan usia 16-18 tahun berjumlah 795. orang (.76.%), 19-24 tahun berjumlah .105 orang (.9.%), dan >24 tahun berjumlah 162.orang (.16.%). Dari jumlah peserta didik tersebut, sebanyak ... orang menjadi peserta ujian dengan lulusan sebanyak 601 orang. Adapun sumber dana penyelenggaraan program Paket B setara SMP yang berasal dari APBN, yaitu sejumlah Rp.168.700.000 dari para peserta, yaitu sejumlah Rp0 .0%), yang berasal dari lainnya, yaitu sejumlah Rp0 (0.%).

3.3.  Paket C Setara SMA

Jumlah lembaga Paket C Setara SMA di Kab. Sumedang  adalah 27. lembaga. Pendidik pada program Paket C setara SMA adalah .264 orang, dimana 106. orang laki-laki (.45.%) dan 129 orang perempuan (55%). Dari keseluruhan pendidik, sebanyak 39 orang sudah dilatih (.15 %) dan 225 orang belum pernah mendapatkan pelatihan (85.%). Adapun tingkat pendidikan dari pendidik Paket C Setara SMA sebagian besar merupakan lulusan SMA/MA yaitu sejumlah 38 orang (24.1 %), lulusan S1/S2 sejumlah 61 orang (28,64%), dan lulusan diploma sejumlah .126.. orang (.46,29%).
Penyelenggara program Paket C setara SMA berjumlah 49 orang dan belum  pernah dilatih (20.%). Adapun tingkat pendidikan penyelenggara terdiri dari 5 orang SMA/MA (.10.%),.11 orang diploma (21.%), dan 33. orang S1/S2 (.69.%).
Peserta didik  berjumlah . 871.. orang yang terdiri dari 291 orang laki-laki (.28%) dan .380. orang perempuan (.72.%), dengan usia 19-24 tahun berjumlah .611 orang (.73.%), dan >24 tahun berjumlah 260. orang (27.%). Dari jumlah peserta didik tersebut, sebanyak .568.. orang menjadi peserta ujian dengan lulusan sebanyak 518. orang. Adapun sumber dana penyelenggaraan program Paket C setara SMA yang berasal dari APBN, yaitu sejumlah Rp.52.370.000 (.80..%), yang berasal dari APBD (provinsi), yaitu sejumlah Rp.46.642.500 (..20.%), yang berasal dari APBD (kab/kota), yaitu sejumlah Rp... 0(..0.%),  sementara yang berasal dari Yayasan, yaitu sejumlah Rp.0 (0%), yang berasal dari para peserta, yaitu sejumlah Rp0 (0%), yang berasal dari lainnya, yaitu sejumlah Rp0 (.0..%).

4. Kursus

Kursus sebagai bagian dari Sistem Pendidikan Nasional diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kursus memiliki peran yang strategis dalam mewujudkan sumber daya yang terampil dan profesional.
Tantangan yang dihadapi adalah globalisasi pasar kerja yang menuntut adanya mutual recognition antarnegara tentang kualifikasi lulusan lembaga/satuan pendidikan. Globalisasi meniscayakan proses nasionalisasi kompetensi lulusan lembaga pendidikan sehingga kompetensi akan bergeser dari lokal spesifik ke global universal sebagai survival kit untuk hidup di era informasi abad 21. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan akses pendidikan masyarakat yang  memberikan kontribusi  penurunan pengangguran terbuka maupun setengah menganggur, meningkatkan mutu dan relevansi sesuai dengan kebutuhan belajar, memperkuat kursus dan kelembagaan PNF lainnya, menciptakan program-program unggulan, dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan program.
Kursus sebagai salah satu satuan pendidikan yang memiliki peran strategis dalam mewujudkan hal tersebut, perlu dibina agar lebih berperan serta dalam memberikan akses pendidikan bagi masyarakat dan secara bertahap meningkatkan mutu.Jumlah lembaga kursus di Kab. Sumedang adalah 67. lembaga, dengan pendidik sebanyak 154 orang yang terdiri dari .52 orang guru (.31.%) dan 102. orang bukan guru (.69.%). Dari jumlah tersebut, sebanyak 26 orang pendidik sudah pernah mengikuti pelatihan (.19.%) sedangkan 128 orang belum pernah dilatih (.81%). Tingkat pendidikan dari pendidik kursus adalah diploma sejumlah 75. orang (49.%) dan S1/S2 sejumlah 79 orang (51.%).




TABEL 9
No.
Kecamatan
Lembaga
Peserta Didik
Lulusan
Pendidik
1
Jatinangor
17
415
116
36
2
Cimanggung
3
49
0
4
3
Tanjungsari
9
500
0
26
4
Rancakalong
0
0
0
0
5
Sumedang Selatan
10
332
0
31
6
Sumedang Utara
13
666
467
30
7
Situraja
2
22
0
2
8
Darmaraja
0
0
0
0
9
Cibugel
1
12
0
2
10
Wado
2
29
0
4
11
Tomo
0
0
0
0
12
Ujung Jaya
0
0
0
0
13
Conggeang
1
8
0
2
14
Paseh
3
166
54
7
15
Cimalaka
3
64
0
6
16
Tanjungkerta
0
0
0
0
17
Buah Dua
3
32
0
4
18
Ganeas
0
0
0
0
19
Jati Gede
0
0
0
0
20
Pamulihan
0
0
0
0
21
Cisitu
0
0
0
0
22
Jatinunggal
0
0
0
0
23
Cisarua
0
0
0
0
24
Tanjungmedar
0
0
0
0
25
Surian
0
0
0
0
26
Sukasari
0
0
0
0
Jumlah
67
2,295
637
154
 Sumber :padatiWEB SKB Sumedang

Pada kursus, terdapat 154 penyelenggara yang terdiri dari 68 orang pernah dilatih (.35 %) dan 86 orang yang belum pernah dilatih (.65 %), dengan tingkat pendidikan seluruhnya adalah S1/S2 (100%).
Peserta didik keseluruhan berjumlah 2295 orang yang terdiri dari 1.864. orang laki-laki (61.%) dan 1.431. orang perempuan (.39.%), dengan usia 7-12 tahun berjumlah 1311 orang (52.%), 13-15 tahun berjumlah 512 orang (.27 %), dan >24 tahun berjumlah 472. orang (.21.%). Adapun sumber dana penyelenggaraan kursus yang berasal dari APBN, yaitu  Rp.665.000.000 (.96.8..%), yang berasal dari APBD (provinsi), yaitu sejumlah Rp. 22.500.000 (.3.2..%), yang berasal dari APBD (kab/kota), yaitu sejumlah Rp..0,- (..0.%),  sementara yang berasal dari Yayasan, yaitu sejumlah Rp..0 (..0.%), yang berasal dari para peserta, yaitu sejumlah Rp0,0 (%), yang berasal dari lainnya, yaitu sejumlah Rp. 0, (.0%).

5.   Pendidikan Kecakapan Hidup/PKH
Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) adalah program pembelajaran yang memberikan peluang kepada masyarakat melalui kelompok belajar untuk belajar, bekerja dan berusaha, sebagai pelajaran pasca program KF dan kesetaraan Paket B dan C. Tujuan PKH adalah untuk memperluas kesempatan belajar usaha bagi masyarakat yang tidak mampu, agar memiliki penghasilan yang tetap, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup keluarganya.

Tabel 10
Gambaran Umum Pendidikan Kecakapan Hidup Kab. Sumedang Tahun 2009
No.
Variabel
Jumlah
No.
Variabel
Jumlah
1
Jumlah Kelompok Belajar
 28
5
Pendidik

2
Jumlah Peserta Didik
376

   - Laki-laki
 7

a. Jenis Kelamin


   - Perempuan
 21

   - Laki-laki
 93

b. Pendidikan


   - Perempuan
 283

   - SD/MI


b. Usia


   - SMP/MTs


   - 16-18 thn


   - SM/MA
 11

   - 19-24 thn
81

   - Diploma
 17

   - > 24 thn
   295

   - S1/S2/S3





c. Pekerjaan

3
Penyelenggara


   - Guru


a. Pendidikan


   - Bukan Guru
 28

   - SD/MI


d. Pelatihan


   - SMP/MTs


   - Sudah dilatih


   - SM/MA


   - Belum dilatih
 28

   - Diploma
 1

e. Usia


   - S1/S2/S3
17

   - < 25


b. Pelatihan


   - 25-34 thn


   - Sudah dilatih
 7

   - 35-44 thn
 28

   - Belum dilatih
 11

   - 45-54 thn





   - > 55 thn

4
Sumber Dana (Ribuan Rp)


f. Masa Kerja


   - APBN
 665.000.000

   - < 1 thn


   - APBD
 60.000.000

   - 1 thn
  

   - Yayasan
 -

   - 2 thn
 28
Sumber: Kuesioner Profil Pendidikan Nonformal Kab. Sumedang, 2009
Jumlah Pendidikan Kecakapan Hidup / PKH di Kab. Sumedang adalah 28 kelompok. Pendidik pada Kelompok Belajar Usaha /PKH adalah 28... orang, dengan 6 orang guru (.18..%) dan 22. orang bukan guru (82.%). Dari keseluruhan pendidik, sebanyak 3 orang sudah dilatih ( 9.%) dan 25 orang belum pernah mendapatkan pelatihan (%). Adapun tingkat pendidikan dari Pendidikan Kecakapan Hidup sebagian besar merupakan lulusan SI/S2 yaitu sejumlah ... orang (.91%), lulusan SMA/MA sejumlah 9 orang (.30..%), dan lulusan diploma sejumlah 19. orang (.60.%).
Penyelenggara Pendidikan Kecakapan Hidup /PKH berjumlah 18 orang, dengan  penyelenggara yang pernah dilatih berjumlah 6 orang (.33.%) sedangkan yang belum pernah dilatih sejumlah 12 orang (66.%). Adapun tingkat pendidikan penyelenggara terdiri dari 2 orang SMA/MA (.11%),1 orang diploma (.6 %), dan 15. orang S1/S2 (.83.%). Peserta didik  berjumlah 376 orang yang terdiri dari 93 orang laki-laki (.23.%) dan 283 orang perempuan (.77.%), dengan usia 16-18 tahun (.25.%), 19-24 tahun (25.%), dan >24 tahun (.75%). Dari jumlah peserta didik tersebut, sebanyak ... orang menjadi peserta ujian dengan lulusan sebanyak 376. orang.
Adapun sumber dana penyelenggaraan program Pendidikan Kecakapan Hidup yang berasal dari APBN, yaitu sejumlah Rp.55.000.000, (.75..%), yang berasal dari APBD (provinsi), yaitu sejumlah Rp.18.330,000 (.25.%), 
6.   Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat
           
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) lahir dari satu kesadaran bahwa lembaga persekolahan telah membuat banyak orang yang kurang beruntung secara ekonomi menjadi tidak mampu membedakan proses dari substansi. PKBM diharapkan dapat berfungsi sebagai tempat pusaran berbagai potensi yang ada dan berkembang di masyarakat. PKBM juga diharapkan dapat berfungsi sebagai sumber informasi yang andal bagi masyarakat yang membutuhkan keterampilan fungsional. Selain itu, PKBM diharapkan pula berfungsi sebagai tempat tukar-menukar berbagai pengetahuan dan keterampilan fungsional di antara warga masyarakat.

TABEL 11
Jumlah Lembaga, Kejar,WB, Tutor, Pengelola, dan Gedung PKBM di
Kab. Sumedang Tahun 2010
No.
Kecamatan
Lembaga
Kelompok
Warga
Tutor
Pengelola
Gedung
Binaan
Belajar
1
Jatinangor
2
0
0
14
2
2
2
Cimanggung
3
0
0
3
3
3
3
Tanjungsari
4
0
0
13
4
4
4
Rancakalong
1
0
0
4
1
1
5
Sumedang Selatan
7
0
0
42
7
7
6
Sumedang Utara
5
0
0
9
5
5
7
Situraja
2
0
0
18
2
2
8
Darmaraja
2
0
0
4
2
2
9
Cibugel
5
0
0
14
5
5
10
Wado
3
0
0
14
3
3
11
Tomo
1
0
0
3
1
1
12
Ujung Jaya
3
0
0
12
3
3
13
Conggeang
4
0
0
8
4
4
14
Paseh
1
0
0
1
1
1
15
Cimalaka
2
0
0
14
2
2
16
Tanjungkerta
1
0
0
6
1
1
17
Buah Dua
1
0
0
7
1
1
18
Ganeas
1
0
0
9
1
1
19
Jati Gede
3
0
0
6
3
3
20
Pamulihan
4
0
0
17
4
4
21
Cisitu
2
0
0
12
2
2
22
Jatinunggal
2
0
0
6
2
2
23
Cisarua
2
0
0
5
5
2
24
Tanjungmedar
1
0
0
8
1
1
25
Surian
2
0
0
4
2
2
26
Sukasari
4
0
0
11
4
4
Jumlah
68
0
0
264
71
68
Sumber :SIM padatiWEB SKB Sumedang

Sebagai salah satu institusi pendidikan nonformal/pendidikan masyarakat dan wadah pembelajaran dari, oleh, dan untuk masyarakat maka PKBM bersifat fleksibel dan netral. PKBM disebut fleksibel antara lain karena ada peluang bagi masyarakat untuk belajar apa saja sesuai dengan yang mereka butuhkan. Di PKBM, warga masyarakat di bawah bimbingan tutor dapat secara demokratis merancang kebutuhan belajar yang mereka inginkan.

Dalam PKBM dapat diselenggarakan beberapa program pembelajaran yang beraneka ragam, seperti program Kelompok Belajar Usaha, Keaksaraan Fungsional, Paket A setara SD, Paket B setara SMP, Paket C setara SMA, kursus menjahit, kursus merias pengantin, kursus las, atau program keterampilan lainnya.

PKBM bersifat netral karena tidak menggunakan atribut Pendidikan Masyarakat (Dikmas) atau pemerintah. Oleh karena itu, semua lembaga/instansi pemerintah atau swasta, lembaga swadaya masyarakat (LSM), atau pihak-pihak lain dapat memanfaatkan keberadaan PKBM sepanjang untuk kepentingan kemajuan masyarakat. Misalnya ada PKBM yang diselenggarakan oleh LSM, pesantren, atau lembaga-lembaga keagamaan, organisasi masyarakat, serta yang diprakarsai oleh perusahaan. Dikmas berperan memfasilitasi sedangkan prakarsa ada pada masyarakat itu sendiri.  
7.   Taman Bacaan Masyarakat
Membaca sebenarnya adalah sebuah proses belajar, sehingga masyarakat yang gemar membaca (reading society) akan melahirkan masyarakat belajar (learning society) yang cerdas. (Direktorat Pendidikan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional, 2006).

Pengembangan budaya baca dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya ialah melalui perintisan dan penguatan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di desa-desa; pemberian block Grant ke TBM untuk membeli buku-buku koleksi baru; pelatihan pengelolaan TBM dan perpustakaan desa; diskusi-diskusi yang bersumber dari buku-buku di TBM, dan sebagainya.
Pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dewasa ini, memang sudah sepatutnya ditindaklanjuti dengan kampanye gerakan membaca, khususnya di kalangan masyarakat lapis bawah. Membangun masyarakat gemar membaca merupakan bagian dari upaya menuju pendidikan sepanjang hayat melalui pendidikan nonformal. Membangun budaya baca melalui TBM merupakan program yang sangat strategis. Prioritas sasaran pengguna TBM adalah warga belajar dari program-program Pendidikan Keaksaraan (Pemberantasan Buta Aksara), Program Kesetaraan (Paket A setara SD, Paket B Setara SMP, Paket C Setara SMA).
Demi mencapai tujuan tersebut, diperlukan program pembelajaran dengan bentuk dan satuan yang diarahkan pada makna kesejatian belajar. Maksudnya, fokus materi pelajaran disesuaikan dengan kebutuhan warga belajar guna menunjang hidup dan penghidupannya.
Program peningkatan budaya baca oleh Direktorat Pendidikan Masyarakat bertumpu pada tiga pilar utama, yakni 1) Terbentuknya TBM di seluruh pelosok daerah; 2) Bahan bacaan yang sesuai kondisi obyektif masyarakat; 3) Tumbuhnya minat baca masyarakat. (Direktorat Pendidikan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional, 2006).
Jumlah pengelola TBM di Kab. Sumedang berjumlah 157 orang yang terdiri dari 16 orang yang sudah dilatih (.10%) dan 141 orang yang belum pernah dilatih (.90 %). Adapun tingkat pendidikan dari penyelenggara adalah SMA/MA sejumlah 76 orang (50.%), diploma sejumlah 25 orang (..17.%), dan S1/S2 sejumlah 51 orang (.33.%).
TABEL 12
Jumlah Lembaga, Pengelola,Gedung, Pengunjung
No.
Kecamatan
Lembaga 
Pengelola
Gedung
Pengunjung
Judul Buku
1
Jatinangor
1
5
1
0
250
2
Cimanggung
1
3
1
220
115
3
Tanjungsari
6
25
6
504
2,736
4
Rancakalong
2
8
2
235
350
5
Sumedang Selatan
1
4
1
270
150
6
Sumedang Utara
2
12
2
275
200
7
Situraja
2
6
2
205
250
8
Darmaraja
1
5
1
250
150
9
Cibugel
0
0
0
0
0
10
Wado
0
0
0
0
0
11
Tomo
1
5
1
150
72
12
Ujung Jaya
1
5
1
150
75
13
Conggeang
1
1
0
0
130
14
Paseh
0
0
0
0
0
15
Cimalaka
3
8
3
151
680
16
Tanjungkerta
0
0
0
0
0
17
Buah Dua
4
8
4
240
310
18
Ganeas
1
1
1
0
125
19
Jati Gede
0
0
0
0
0
20
Pamulihan
2
14
2
220
240
21
Cisitu
3
10
3
455
550
22
Jatinunggal
2
7
2
220
350
23
Cisarua
2
6
2
210
200
24
Tanjungmedar
2
9
2
180
240
25
Surian
2
5
2
125
160
26
Sukasari
2
10
2
225
200
Jumlah
42
157
41
4,285
7,533
Sumber: SIM Pendidikan Nonformal Kab. Sumedang, 2009

Adapun sumber dana penyelenggaraan program TBM yang berasal dari APBN, yaitu sejumlah Rp.0 (.0.%), yang berasal dari APBD (provinsi), yaitu sejumlah Rp.0 (0.%), yang berasal dari APBD (kab/kota), yaitu sejumlah Rp.,0 (.0..%),  sementara yang berasal dari Yayasan, yaitu sejumlah Rp..0 (.0..%), yang berasal dari para peserta, yaitu + sejumlah Rp100.000,- (.100..%),









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar