Minggu, 14 Agustus 2011

kajian PI PP

Implementasi Pendidikan Informal di Keluarga

Oleh: Agus Ramdani, S.Sos.M.MPd, dkk



Pendidikan informal merupakan pendidikan yang berlangsung dalam keluarga dan masyarakat. Pada umumnya, pelaksanaan pendidikan informal di kedua kelompok tersebut berlangsung secara mandiri dan tidak terstruktur. Mandiri dalam artian tidak membutuhkan adanya pendidik yang merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pendidikannya. Tidak terstuktur dalam arti tidak membutuhkan struktur kurikulum dan perangkat pembelajaran lainnya untuk mencapai tujuan dari pendidikan informal ini, karena sifatnya yang berlangsung seumur hidup, bisa dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja tergantung pada kebutuhan individu atau kelompok terhadap hal-hal yang dipandang berguna untuk kehidupannya.
Pendidikan informal dalam keluarga! Seperti kita ketahui bahwa keluarga merupakan satuan pendidikan terkecil dalam masyarakat. Dalam keluarga anak-akan pertama kali akan merasakan sentuhan pendidikan dari orang tuanya. Pendidikan ini pada umumnya bertujuan untuk menyosialisasikan nilai, membudayakan (mengelturasikan) kebiasaan dan perilaku, serta menginternalisasikan sikap, norma, serta watak yang dikehendaki oleh orangtua bisa tumbuh dalam diri anak-anaknya. Dengan kata lain, disadari atau tidak, pendidikan dalam keluarga memegang peranan penting dalam pembentukan watak anak. Bila pendidikan itu dapat memberi pengaruh positif terhadap perkembangan mental seorang anak, maka hasil pendidikan itu akan bersifat positif. Sebaliknya, bila negatif, maka hasil pendidikannya-pun akan negatif.
Sebelum lebih jauh membahas mengenai impelementasi pendidikan informal pada keluarga, tulisan ini merupakan sub-pembahasan dari kegiatan pengkajian implementasi pendidikan informal di masyarakat yang dilakukan oleh P2-PNFI (Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal) pada tahun 2011 dengan lokasi pengkajian: Desa Tagog Apu, Desa Jayagiri, Kampung Genteng Desa Jayagiri, (Kab Bandung Barat) Desa Cilembu dan Desa Pamulihan (Kab Sumedang) Kelurahan Sukabungah (Kota Bandung), Desa Malongpong dan Desa Wanahayu (Kab Majalengka), Desa Gebang Mekar dan Desa Gebang Udik (Kab Cirebon), Kelurahan Pulau Tidung (DKI Jakarta), Desa Rancasumur dan Desa Garut (Kab Serang), Kelurahan Kota Karang dan Kelurahan Sukamaju (Kota Bandar Lampung), Kota Bengkulu, Kelurahan Tua Tunu Indah dan Kelurahan Bukit Merapin (Kota Pangkal Pinang).
Pada keluarga-keluarga yang berhasil mendidik anaknya, dengan indikator dapat menciptakan watak dan perilaku anak yang baik dan terus termotivasi untuk berprestasi dalam hidupnya. Dari semenjak kecil anak-anak sudah disosialisasikan nilai-nilai: hidup rukun, saling menghormati, kerjasama, optimis, kebersamaan dan kesopanan. Adapun perilaku yang dienkulturasikan oleh keluarga berhasil kepada anak-anaknya yaitu: menghargai sesama, taat beragama, tidak mengeluh, fleksibel, up-date informasi, kerja keras, terbuka, iniatif, rapih, wirausaha, hemat, dan rendah hati.
Adapun proses pembelajaran informal yang dilaksanakan oleh keluarga berhasil di lokasi pengkajian, dilakukan dengan cara: 1) pro-aktif terhadap perkembangan mental dan pendidikan anak-anaknya, 2) memberikan contoh dan menjadi suri tauladan, 3) memberikan motivasi, 4) memberikan hukuman, 5) melakukan pembagian tugas pekerjaan rumah, 6) mengajak untuk melakukan usaha keluarga, 8) melaksanakan bimbingan mengenai perilaku/ perbuatan positif, 9) menghargai keinginan anak, 10) tidak mengeluh dihadapan anak, 11) memberikan nasehat, dan 12) mempraktekan kegiatan-kegiatan yang ingin dikuasai oleh anak-anaknya.
Dimulai dari keluarga Abdul Rasyid (49) penduduk Kelurahan Pulau Tidung, ia mempunyai dua orang anak Sofyan (23) dan Ahmad (21), Keduanya sudah menyelesaikan pendidikan formalnya sampai dengan mendapat gelar sarjana, dari sebuah universitas negeri di Jakarta. Abdul Rasyid sudah membiasakan anak-anaknya untuk mengungkapkan pendapat dan permasalahan yang sedang dihadapinya, serta selalu menyuruh anak-anaknya supaya tidur teratur dan belajar selepas pulang sekolah. Abdul Rasyid juga menerangkan bahwa dirinya merupakan tipikal orang tua yang suka dan membiasakan diri mencari informasi yang mendukung dalam mendidik anak-anak mereka. Misalnya dengan membaca sumber-sumber tulisan, baik itu di buku maupun di majalah/ surat kabar.
Lain lagi yang dilakukan oleh Caskiat (52) warga Desa Gebang Mekar, Kehidupan keluarganya terbilang pas-pasan, tetapi bicara soal pendidikan anak, keluarga ini memang patut menjadi contoh. Anak pertamanya adalah lulusan Perikanan IPB kini bekerja di Departemen Kelautan dan Perikanan yang ditempatkan di Bangka, anak kedua juga lulusan IPB jurusan pengolahan hasil laut, juga kini ditempatkan di pemerintah daerah Belitung. Anak ke-3 kini masih kuliah di jurusan gizi Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto, Anak ke-4 memilih menjadi nelayan sepeti dirinya, dan anak ke-5 masih duduk di bangkus SMA. Caskiat memang memprioritaskan pendidikan, tetapi di sisi lain ia membebaskan anak-anaknya memilih jalan hidupnya. Menurut Caskiat, tiap anak telah memiliki bakat masing-masing, meskipun orang tua mengarahkan anaknya untuk menempuh suatu jalan—pendidikan—tetapi jika si anak tidak berminat, akan gagal. Caskiat juga tidak pernah memperlihatkan bagaimana banting tulangnya ia dalam mendukung keinginan anaknya, ia tidak pernah mengeluh kepada anak-anaknya, supaya anak-anaknya dapat terus termotivasi untuk sekolah tanpa merasa bersalah atau membebani orang tuanya.
Taryana (42) bukanlah keluarga mampu di Desa Cilembu. Ia mempunyai 4 orang anak, 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Taryana dalam rumah tangganya harmonis, dalam mendidik putera puterinya tidak pernah memaksa, ada yang mengikuti jejak ayahnya ada juga yang mengembangkan potensi yang ada di dirinya. Setiap malam pasti harus berkumpul untuk berkomunikasi antara ayah, ibu dan anak-anak. Taryana juga sudah mengajarkan anak-anaknya cara berbisnis yang baik, supaya dapat membantu perekomonian keluarnya.
Sebut saja Ai (43) penduduk Kelurahan Sukabungah. Ai istri polisi yang dikaruniai 4 orang anak. Di keluarga Ai, suaminya sangat menekankan disiplin kepada anak-anaknya, dan tidak segan-segan memberi hukuman bila ada peraturan keluarga yang dilanggar. Selain itu, Ai juga melakukan pembagian peran kepada anak-anaknya dalam membersihkan rumah. Ai juga hanya memberikan uang saku terbatas kepada anak-anaknya yang hanya cukup untuk ongkos, sehingga mereka harus membawa makanan dari rumah sebagai bekal untuk ke sekolah. Ibu Ai berupaya menata rumah agar terasa betah bagi anak-anaknya, sehingga mereka lebih suka berada di rumah daripada main di luar. Ibu Ai juga membiasakan putra-putrinya mengaji di rumah setiap hari. Sekarang putra-putri Ibu Ai telah meraih gelar sarjana dan bekerja sesuai kompetensi masing-masing.
Samsudin (54 tahun) penduduk Desa Pamulihan. Ia memiliki 2 orang anak yang dua-duanya perempuan. Keluarga Samsudin ini adalah keluarga yang tidak mampu/sederhana, Samsudin merupakan seorang petani yang mampu menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi. Dalam kehidupan sehari-hari menanamkan nilai-nilai terutama dalam segi agama, hemat, kesadaran, kerja keras, dan semangat. Dalam pekerjaan di rumah berbagi tugas disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, tidak memaksakan kepada anak harus begini dan begitu yang penting orang tua sudah menanamkan nilai kesadaran yang tinggi kepada anak-anaknya.
Terakhir keluarga Ate (54) penduduk Desa Jayagiri. Ia dalam mendidik anak dilingkungan keluarga lebih mengedepankan memeberi motivasi, memberikan contoh. Contoh keteladanan yang langsung di terapkan di lingkungan keluarga melalui kebiasaan-kebiasaan yang tanpa di sengaja. Ate, dalam keluarga suka membagi tugas pekerjaan rumah sesuai dengan kemampuan anak, Ate juga eelalu menanamkan kedisiplinan, Contoh ketika anak telat sholat, mereka langsung di tegur kadang-kadang anak di cepret / di pukul kakinya, dengan cara itu anak merasa segan sehingga pada waktu solat langsung mereka solat, bahkan pak Ate selalu mengajak anak-anaknya ke masjid untuk mengikuti solat berjamaah. Tetapi ketika ada kesempatan berkumpul bersama dirumah dan datang waktu solat, Ate selalu mengusahakan solat berjamaah bersama di rumah.
Selain itu, Ate juga sering membiasakan anak-anaklnya supaya mendengar ketika orang tuanya mengaji bagi anak-anak orang lain di rumahnya. Karena keluarga Ate menerima anak-anak belajar mengaji, anak Ate masih kecil pada waktu itu sekitar usia dua tahun sering dipangku oleh bapaknya yang sedang mengajar ngaji setiap selesai magrib. Anak pertama pak Ate sejak usia lima tahun sudah hapal juz ‘ama (hapal membaca surat-surat pendek sebanyak 30 surat, proses belajar tanpa di sengaja. Ate waktu itu kalau mengasuh anaknya selalu sambil membaca surat-surat pendek (juz ‘amma).sejak usia masih bayi, anak selalu mendengarkan bapaknya mengajikan surat-surat pendek, misalnya sambil di gendong sambil di duduk, ketika mau tidur, makan, mandi, main, seorang bapak selalu membaca surat-surat pendek, tanpa di sengaja di dengar oleh sang anak, dan ketika belajar pertama berbicara, Ate suka mengajak anaknya melapalkan kalimat bismillah, dan asma Alloh yang lainnya, dan ketika menjelang usia tiga dan empat tahun sekali-kali seorang ayah meminta anak untuk membacakan surat-surat pendek dan ternyata bisa., yang akhirnya pada usia lima tahun anak hapal sampai 30 surat pendek. Kini (2011) anak pertama Ate menjadi juara MTQ tingkat Jawa Barat.
Ketika Ate mendapat undangan untuk memberikan ceramah di masjid, jika bentrok maka diberikan kepada anaknya untuk memberikan ceramah di masjid untuk mengganti bapaknya, bahkan kadang-kadang sengaja memberikan kesempatan untuk mencoba keberanian anaknya berceramah didepan umum, kesempatan tersebut diberikan ketika anak masih usia 16 tahun atau sekitar kelas tiga SMP, dan pada akhirnya kelima anaknya bisa memberikan ceramah di setiap acara pengajian ibu-ibu di masjid. Orang tua selalu mendengarkan ceramah di TV, tanpa di sadari anak-anak ikut mendengarkan ceramah di TV dan pada akhirnya anak bisa ceramah.
Dari cerita-cerita sukses mengenai keluarga yang dipandang telah berhasil dalam mendidik anaknya tersebut, dapat diambil hikmah bahwa kebiasaan-kebiasaan, misalnya, makan bersama, mengungkapkan pendapat, hemat dan pembiasaan untuk bertanggungjawa, dan lain sebainya sangatlah penting untuk menciptakan karakter anak yang positf serta berhasil dalam menjalani kehidupannya sebagai seorang yang dewasa.
Dengan demikian, para orang tua diharapkan untuk bersikap lebih fleksibel dalam mendidik anak-anak mereka. Mereka juga diharapkan untuk bersikap lebih selektif dan bijaksana dalam memilih nilai-nilai yang berguna bagi perkembangan mental anak-anak mereka. Ini tidak berarti mereka lalu terus meninggalkan segala nilai dalam masyarakat yang telah diwariskan dan dihormati secara turun-temurun. Dan para orang tua pun sebaiknya suka dan membiasakan diri mencari informasi yang mendukung dalam mendidik anak-anak mereka, misalnya dengan membaca sumber-sumber tulisan, baik itu di buku maupun di majalah yang membahas tentang pendidikan watak anak. Di samping itu, mereka pun dapat mengikuti acara televisi atau radio yang membahas hal yang sama secara teratur. Hanya orang tua yang bersikap proaktif yang dapat memahami perkembangan dunia anak-anak seiring dengan perjalanan waktu. Singkatnya, orang tua harus suka “menjemput bola” daripada “menanti bola”.
Selanjutnya dari kegiatan pengkajian pendidikan informal di keluarga juga, ternyata ditemukan tidak sedikit juga anak yang terus terbelenggu oleh pengaruh negatif pendidikan yang diberikan oleh orangtuanya dan bahkan seringkali gagal dalam usahanya untuk berubah. Hal ini disebabkan oleh pengaruh yang sangat kuat dari pendidikan keluarga dan kurangnya motivasi, baik dari dalam maupun dari luar dirinya untuk berubah.
Sepeti yang terjadi pada keluarga Selamet (49 tahun) penduduk Kelurahan Pulau Tidung. Ia menjelaskan bahwa dalam keluarganya, ia tidak membiasakan anak-anaknya untuk makan bersama. Makannya sendiri-sendiri jika merasa lapar. Selamet menyadari bahwa jarang sekali ia dapat berbincang dengan anak-anaknya, karena selain ia sibuk bekerja, ia juga menyerahkan pendidikan anaknya kepada istrinya. Selamet juga memang tidak membiasakan anak-anaknya untuk berpendapat sejak kecil. Mengapa ia tidak memperbolehkan anaknya untuk mengungkapkan idenya secara bebas waktu kecil? Selamet berpendapat bahwa anak kecil suka berbicara banyak dan lancang, suka menggurui, dan tak tahu sopan santun. Blue print tersebut, ternyata sejak kecil sudah melembaga dalam keluarga Selamet dengan seorang ayah yang memegang teguh adat dan pasif dalam membimbing anak-anaknya.
Tentu saja masih banyak hal yang disebabkan oleh “salah didik” dalam keluarga, yang sebenarnya tidak perlu terjadi bila para orang tua dapat memilah dengan tepat mana yang dianggap sopan, dan mana yang tidak. Ini juga bisa menjadi koreksi terhadap tradisi yang justru membawa kerugian dan hambatan psikologis bagi orang yang mematuhinya. Tradisi, baik itu tradisi keluarga maupun tradisi masyarakat yang dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman-lah yang akan mampu bertahan hidup selamanya.
Berdasarkan fakta-fakta di atas, Secara umum, paralel dengan peribahasa “bahasa menunjukkan bangsa” kita dapat mengatakan bahwa anak menunjukkan keluarga (dan masyarakat) tempat ia berasal. Seorang anak yang berprestasi dan bertingkah laku baik akan menunjukkan hasil didikan keluarga. Sebaliknya, anak yang gagal dan berperilaku buruk akan menjadi aib bagi keluarga dan masyarakatnya. Karena itu, pendidikan keluarga, yang merupakan pendidikan awal dari segala tahap pendidikan, harus mendapat perhatian yang serius sedini mungkin, sehingga setiap anak akan berkembang sesuai dengan harapan keluarga dan masyarakat.
Kita, khususnya para orang tua, dalam mendidik anak-anak mereka, perlu membuat interprestasi yang lebih arif-bijaksana – jangan serta-merta menganggap semua perbuatan anak lancang dan tidak sopan hanya karena kita terlalu kaku mempertahankan nilai-nilai yang ditafsirkan secara keliru. Karena sekali para orang tua mengajarkan yang salah, kesalahan itu akan berlanjut untuk waktu yang sangat lama bahkan seumur hidup, dan untuk memperbaiki sikap yang telah memfosil dan telanjur diyakini benar, diperlukan waktu yang tidak singkat, belum ditambah dengan korban perasaan dari si anak yang merasa telah, secara tidak langsung, menjadi korban diterapkannya nilai-nilai yang keliru (40811).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar