Selasa, 12 Juni 2012

SKRIPSI GURU TK


BAB I
                                                PENDAHULUAN

1.1                   Latar Belakang Masalah
Mengingat pentingnya pendidikan masa kanak-kanak sebagai pondasi dari awal  pertumbuhan dan perkembangan mereka di masa datang, maka optimalisasi pendidikan ditiga lingkungan yaitu, keluarga, masyarakat, dan sekolah menjadi sangat penting. Aspek-aspek yang dikembangkan dalam hal ini diantaranya aspek fisik, sosial, emosional, dan kognitif anak saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Perkembangan fisik motorik anak meliputi motorik kasar dan motorik halus anak. Perkembangan motorik halus anak taman kanak-kanak ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan.
Kegiatan motorik halus sebaiknya sudah diperkenalkan kepada anak pra sekolah. Tentu saja hal ini seiring dengan kegiatan motorik kasarnya. Anak-anak memerlukan persiapan yang sebelum mereka bersekolah, sehingga kelak diharapkan mereka mampu menguasai gerakan-gerakan yang akan dilakukan nantinya pada saat bersekolah.
Kemampuan motorik halus anak adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang meliputi otot kecil,  koordinasi mata dan tangan. motorik halus anak ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan  yang  kontinu secara rutin. Seperti : bermain puzzle, menyusun balok, memasukan benda ke dalam lubang sesuai bentuknya, membuat garis, melipat kertas dan sebagainya.
Kemampuan motorik halus anak berbeda-beda, dalam  hal kekuatan maupun ketepatannya dan dipengaruhi oleh pembawaan anak dan stimulasi yang didapatkannya. Lingkungan atau orang tua mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam kecerdasan motorik halus.
Kemampuan motorik halus ini bisa dikembangkan dengan cara anak-anak bermain dalam suasana suka cita, gembira dan penuh kasih sayang ( seperti : bermain menggali pasir, tanah, menuangkan  air,  dll).
Hamdani ( 2010: 03), beberapa kemampuan motorik halus yang penting bagi anak untuk dikembangkan adalah:  
1.      Mampu melengkungkan telapak tangan membentuk cekungan.
2.     Menggunakan jari telunjuk dan jempol untuk memegang suatu benda, sambil menggunakan jari manis untuk kestabilan tangan mereka.
3.     Membuat bentuk lengkung dengan jempol dan telunjuk.
Berdasarkan permasalahan yang terdapat pada Lembar Kegiatan Siswa (LKS) dalam hal merobek dan menempel kertas lipat kemudian ditempel pada gambar yang telah disediakan masih banyak anak yang masih kurang pada motorik halus, ada anak yang masih asal-asalan, dalam  merobek kertas tidak beraturan, dan  belum rapih.
Berdasarkan kondisi permasalahan yang nyata terjadi di kelompok B di Paud Nuurul Iman anak-anak masih belum tertib, dalam penyampaiannya materi kurang dipahami oleh anak,  dan kurang dalam hal medianya atau bahan-bahan untuk pekerjaan anak. Aktivitas tersebut terlihat mudah namun memerlukan latihan dan bimbingan agar anak dapat melakukannya secara baik dan benar.
Berdasarkan permasalahan penelitian, pada tanggal 24 November 2011 di kelompok B di Paud Nuurul Iman, terdapat anak yang kurang rapih dan kurang teliti dalam mengerjakan suatu pekerjaan dalam hal merobek dan menempel potongan kertas yang berukuran acak, kecil, sedang, besar pada sebuah gambar yang telah disediakan oleh guru.
 Adapun (60%) dari 9 anak belum berkembang dalam mengerjakan menempelkan potongan kertas yang berukuran kecil-kecil pada sebuah gambar  dan (40%) dari 6 anak yang sudah mulai berkembang sesuai harapan dari jumlah 15 anak.
Solusinya supaya anak minat terhadap motorik halus anak dengan cara memotivasi dari luar diri anak dengan mengembangkan imajinasi anak kemudian anak akan termotivasi dari dalam diri anak.
Keunggulan metode pemberian tugas dalam mengembangkan motorik halus anak merupakan dapat memupuk semangat belajar peserta didik, dapat lebih memperdalam, memperkaya, dan memperluas wawasan yang dipelajarinya
Supaya motorik halus anak diharapkan dapat berkembang lebih baik dari sebelumnya dan lentur, dalam hal menghias gambar tersebut dengan cara merobek kertas yang berukuran kecil-kecil dengan cara memberikan arahan yang dimengerti oleh anak dan bimbingan yang tepat pada anak usia dini supaya dapat perlahan-lahan dalam mengerjakan pekerjaannya dengan teliti dan rapih.
Dari uraian di atas maka, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Penerapan Metode Pemberian Tugas dengan Teknik Merobek untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak" (Penelitian Tindakan Kelas di kelompok B di Paud Nuurul Iman Tanjungsari).
1.2                   Rumusan Masalah
Peneliti merumuskan pada penelitian  ini dapat dikemukakan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :
1.    Bagaimana perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran merobek dan menempel dengan metode pemberian tugas ?
2.    Bagaimana peningkatan kemampuan anak dalam hal merobek dan menempel setelah dilaksanakan penerapan metode pemberian tugas ?
1.3                   Batasan Masalah
Dalam batasan masalah penelitian ini sebagai berikut:
1.    Kemampuan merobek kertas pada gambar dengan menggunakan media kertas.
2.    Kemampuan menempel kertas pada gambar dengan menggunakan media kertas.


1.4                   Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk:
1.    Mengetahui perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran merobek dan menempel dengan metode pemberian tugas.
2.    Mengetahui peningkatan kemampuan anak dalam hal merobek dan menempel setelah dilaksanakan penerapan metode pemberian tugas.
1.5                   Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini, maka manfaat penelitian ini diantaranya sebagai berikut :
a.    Dapat menambah wawasan serta pengetahuan dalam hal penerapan media  merobek untuk meningkatkan kelenturan jari tangan anak.
b.    Dapat mengkoordinasi kecepatan atau kecekatan tangan dengan gerakan mata
c.    Dapat mengembangkan kemampuan motorik halus anak yang berhubungan dengan keterampilan gerak kedua tangan
d.   Dapat meningkatkan keterampilan dalam melaksanakan metode pembelajarannya
1.6                   Anggapan Dasar
Dalam menentukan anggapan dasar penelitian, penulis terlebih dahulu menentukan suatu anggapan dasar yang nantinya akan menjadi dasar pijakan untuk bahan penelitian selanjutnya. Dengan berdasarkan atas hasil pengamatan penulis dilapanagan dan tentunya dari teori-teori yang dikutip oleh para ahli.
Adapun anggapan dasar yang penulis ajukan sesuai dengan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bahwa kemampuan motorik halus anak  yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya. Pada dasarnya perkembangan ini berkembang sejalan dengan kematangan saraf dan otak anak.
1.7                   Hipotesis Tindakan
Dengan kata lain hipotesa adalah sebuah kesimpulan tetapi kesimpulan tersebut belum final masih harus dibuktikan kebenarannya. Hipotesa hendaknya membuat semakin jelas arah pengujian suatu masalah berdasarkan anggapan dasar, penulis mengajukan hipotesa sebagai berikut : Penerapan Metode Pemberian Tugas melalui Teknik Merobek dapat Meningkatkan Kemampuan Motorik halus Anak di kelas kelompok B PAUD Nurul Iman Tanjungsari”
1.8                   Definisi Operasional
Agar tidak terjadi salah penafsiran terhadap istilah yang digunakan, oleh karena itu penulis membatasi berbagai istilah yang terdapat dalam judul penelitian yaitu : “upaya meningkatkan kemampuan motorik halus anak dengan menggunakan metode pemberian tugas melalui teknik merobek”. Batasan istilahnya sebagai berikut :
1.    Kemampuan Motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang meliputi otot kecil dan koordinasi mata dan tangan.
2.    Metode adalah cara yang sudah dipikirkan masak-masak dan dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah tertentu guna mencapai tujuan yang hendak dicapai.
3.    Pemberian tugas adalah tugas atau pekerjaan yang sengaja diberikan kepada anak Taman kanak-kanak yang harus dilaksanakan dengan baik.
4.    Merobek adalah seni yang sangat mudah, namun itu diperlukan latihan untuk membuat gambar subjek yang akurat, tanpa menggunakan garis saat awal merobek kertas.















BAB II
                                          LANDASAN TEORITIS

2.1                   Pertumbuhan dan Perkembangan Motorik Anak Pra Sekolah
Pertumbuhan adalah proses perubahan yang bersifat progesif atau maju pada aspek fisik dan pisiologi. Perubahan ini lebih bersipat kuantitatif yang berhubungan dengan dengan jumlah dan ukuran. Contohnya: bayi hanya bisa tidur terlentang, lambat laun bisa tengkurap, merayap, merangkak, merambat, dan berjalan.
Perkembangan adalah proses perubahan progesif atau maju pada berbagai aspek fisik dan psikis sebagai hasil kematangan dan belajar. Gautama (2002:34) mengemukakan bahwa, kematangan merupakan faktor internal (dari dalam diri) yang terjadi secara alamiah pada setiap individu, sedangkan belajar merupakan faktor eksternal (dari luar) yang terjadi karena individu berinteraksi dengan lingkungan.
Perkembangan pada anak dapat diupayakan terjadi secara optimal melalui kegiatan belajar. Perkembangan pada anak seringkali tidak disadari oleh orang tua, bahkan mungkin bagi seorang pendidik. Bagi orang tua perkembangan anak merupakan proses alamiah yang terjadi pada setiap saat dan sedikit sekali yang memahami perkembangan pada anak.
Setiap tahapan perkembangan menunjukan ciri-ciri perilaku tertentu sebagai harapan sosial yang harus dicapai. Ciri-ciri dari perkembangan merupakan tugas perkembangan pada suatu tahapan yang dicapai dan dikuasai oleh setiap anak. Seorang anak mampu mencapai perkembangan pada tahapan tertentu, maka akan mendapatkan kepuasan dan akan  menjadi dasar bagi penguasaan dan perkembangan pada tahapan selajutnya, misalnya: penguasaan gerak melangkah untuk mengembangkan kemampuan berjalan, berlari, bahkan meloncat.
Menurut Iskandar (2006:4),  menyatakan ada beberapa prinsip yang diharapkan akan memberikan gambaran tentang perkembangan anak sebagai berikut:
1)   Perkembangan ditandai dengan perubahan, pada dasarnya ditandai oleh proses perubahan fisik, psikologis dan sosial yang bersifat relatif menetap dan progesif (maju) sebagai hasil kematangan dan belajar.
2)   Perkembangan awal dari perkembangan selanjutnya (usia 2 tahun - 5 tahun). Pada usia tersebut ditandai oleh berbagai bentuk seperti masa egosentris, masa menentang, masa identifikasi, dan masa imitasi, serta masa peka.
3)   Pekembangan hasil kematangan belajar, kematangan adalah faktor internal yang memungkinkan terjadinya perubahan baik aspek fisik, psikologis maupun sosiabilitas anak.
4)   Perbedaan individu perkembangan anak, setiap anak menunjukan beberapa penguasaan pola perkembangan yang berbeda menurut perkembangan masing-masing.
Perkembangan motorik anak pra sekolah sedang mengalami pertumbuhan, terutama pertumbuhan jasmani yang sangat pesat dan secara nyata dapat dilihat dari pertumbuhan motorik.
Pengembangan kemampuan motorik, baik motorik kasar maupun motorik halus pada anak tidak akan berkembang melalui kematangan begitu saja, melainkan pengembangan keterampilan motorik dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mencakup kesiapan belajar, kesempatan belajar, kesempatan berpraktek, model yang harus baik, bimbingan motivasi setiap keterampilan harus dipelajari secara satu demi satu.
Aspek perkembangan motorik anak mencakup tiga hal seperti dikemukakan oleh Suparman Eman ( 2009: 2) yaitu:
1). Perkembangan Anatomis
Perkembangan pada motorik anak diperlihatkan dengan bertambahnya jumlah tulang belakang yang berpengaruh pada semakin meningkatkannya proporsi tinggi kepala dan berat badan pada anak tersebut.
2). Perkembangan Psikologis
Perkembangan psikologis ditandai dengan adanya perubahan secara kuantitatif, kualitatif dan fungsional sistem kerja hayati, seperti kontraksi otot, peredaran darah dan pernapasan, persyaratan produksi kelenjar dan pencernaan pada anak berfungsi sebagai pengontrol motorik dan denyut jantung frekuensinya sekitar 140 denyut permenit.


3). Perkembangan Perilaku Motorik
Perkembangangan perilaku motorik memerlukan adanya kooordinasi antara persyaratan dan otot serta fungsi kognitif, dan afektif. Dua macam perilaku motorik utama yang bersifat umum harus dikuasai oleh setiap anak, yaitu : a). Berjalan dan memegang benda merupakan jenis keterampilan motorik dasar, b). Bermain dan bekerja merupakan keterampilan motorik penunjang.
Tujuan dari pengembangan motorik jasmani adalah mengembangkan keterampilan motorik kasar dan  motorik halus anak untuk pertumbuhan dan kesehatan (Iskandar, 2006:7) yang meliputi sebagai berikut :
1)   Mengembangkan kemampuan koordinasi motorik kasar dan motorik halus.
2)   Menanamkan nilai-nilai sportifitas dan disiplin.
3)   Meningkatkan kesegaran jasmani.
4)   Memperkenalkan sejak dini hidup sehat.
5)   Memperkenalkan gerakan-gerakan yang mudah melalui irama musik.
6)   Meningkatkan keterampilan menggunakan alat-alat dan bahan berkreasi secara wajar.
Perkembangan fisik sangat berkaitan erat dengan perkembangan fisik motorik anak. Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinasi antara susunan syaraf, otot, dan otak. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan motorik halus.
Perkembangan motorik tidak saja mencakup berjalan, berlari, melompat, naik sepeda roda tiga, dan berbagai aktivitas koordiasi mata dan tangan, namun juga melibatkan hal-hal seperti : menggambar, mencoret, mengecat, dan kegiatan lain. Keterampilan motorik berkembang pesat pada usia ini.
Kemampuan keseimbangan membuat anak mencoba berbagai kegiatan dengan keyakinan yang besar akan keterampilan yang dimiliki. Anak amat menyukai berbagai gerakan-gerakan yang membangkitkan semangat. Untuk itu, mereka tidak butuh duduk berlama-lama. Sehingga yang cocok pada usia ini permainan yang merangsang kesegaran mereka akan gerakan-gerakan.
Tugas perkembangan jasmani berupa koordinasi gerakan tubuh, seperti: berlari, berjinjit, melompat , bergantung, melempar, menangkap, dan menjaga keseimbngan. Kegiatan ini diperlukan keterampilan koordinasi gerakan motorik kasar.
Konsep pengembangan motorik merupakan hal yang sangat penting dalam membentuk sikap, kepribadian, dan kualitas gerak yang perlu dimiliki oleh seorang anak.
2.1.1       Pengertian Motorik Kasar
Menurut Motorik kasar pada umumnya gerakan-gerakan yang biasa dilakukan anak, bisa kita lihat pada saat mereka bermain ( Iskandar, 2006:9). Mereka bermain kesana kemari dengan berlari, melompat, meloncat atau bermain-main bola. Gerakan-gerakan ini sangatlah dipengaruhi oleh perkembangan fisik dan psikis anak.
Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri ( Episentrum psykology, 2012). Contohnya : kemampuan duduk, menendang bola, berlari, naik-turun tangga, dsb.
Ada tiga unsur yang sangat berperan penting dalam motorik ini yaitu: otot, otak, dan syaraf. Motorik kasar ini merupakan bagian dari aktivitas atau keterampilan dari otot-otot besar, sehingga dengan bertambahnya usia anak, maka kematangan syaraf dan otot anak akan berkembang.
a.    Kemampuan Lokomotor
Gerak lokomotor merupakan suatu aktivitas atau tindakan memindahkan seluruh tubuh dari satu tempat ke tempat yang lain ( Iskandar, 2006:9). Gerakan yang termasuk ke dalam gerakan lokomotor, sebagai berikut:
1)   Melangkah, merupakan suatu aktivitas dengan memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat yang lain, yaitu dengan menggerakkan salah satu kaki ke depan, ke belakang, ke samping, dan serong dengan diikuti kaki yang satunya lagi.
2)   Berjalan, merupakan suatu aktivitas dengan memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat yang lain, yaitu dengan melangkahkan kaki secara berulang-ulang dan bergantian.
3)   Berlari, pada dasarnya gerakan berlari itu sama dengan gerakan berjalan, tetapi dalam berlari jangkauannya lebih jauh dibandingkan dengan berjalan.
4)   Melompat, merupakan suatu aktivitas memindahkan tubuh ke depan dengan bertumpu pada salah satu kaki dan mendarat dengan kedua kaki.
5)   Meloncat, merupakan suatu aktivitas memindahkan tubuh ke depan atau ke atas dengan bertumpu pada kedua kaki dan mendarat kedua kaki.
6)   Merangkak, merupakan suatu aktivitas menggerakkan tubuh dengan bertumpu pada bagian-bagian tubuh, yaitu telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki.
7)   Berjingkat, merupakan suatu aktivitas memindahkan tubuh ke depan dengan cara bertumpu pada salah satu kaki baik kiri atau kanan dan mendarat pada kaki yang sama.
b.    Kemampuan Non Lokomotor
Gerakan non lokomotor merupakan suatu aktivitas atau tindakan yang dilakukan oleh tubuh dengan tidak memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat yang lain ( Iskandar, 2006:11).
Yang termasuk gerakan non lokomotor adalah sebagai berikut:1) Memutar tubuh dan bagian-bagian tubuh, 2) Gerakan memutar kepala, 3) Gerakan memutarkan kedua lengan, 4) Gerakan memutarkan pinggang, 5) Gerakan memutarkan kedua lutut,  6) Memutarkan pergelangan kaki, 7) Memutarkan pergelangan tangan, 8) Menekukkan tubuh atau bagian tubuh  gerakan bangun tidur, gerakan duduk cium lutut, sikap jembatan, dan telungkup dan tarik dada keatas, 9) Latihan keseimbangan ( sikap lilin dan kesimbangan seluruh tubuh).
c.    Kemampuan Manipulatif
Gerak manipulatif merupakan suatu aktivitas atau tindakan yang dilakukan oleh tubuh dengan bantuan alat ( Iskandar, 2006:11), seperti dibawah ini:1) Melempar dengan bola, 2) Menangkap bola, 3) Menendang bol, 4) Memantulakan bola
Tujuan perkembangan motorik kasar pada anak pra sekolah, sebagai berikut: 1) Mampu mengembangkan kemampuan motorik kasar, 2)Mampu menanamkan nilai-nilai sportifitas dan disiplin, 3) Mampu meningkatkan kesegaran jasmani, 4) Mampu memperkenalkan sejak dini hidup sehat.
Fungsi pengembangan motorik kasar pada anak usia pra sekolah, sebagai berikut: 1) Alat pemacu pertumbuhan dan pengembangan jasmani, rohani dan kesehatan,  2) Alat untuk membentuk dan membangun serta memperkuat tubuh, 3) Melatih keterampilan dan ketangkasan gerak, juga daya berfikir, 4)  Alat untuk meningkatkan perkembangan emosional, 5) Alat untuk meningkatkan perkembangan sosial, 6) Menumbuhkan perasaan senang dan memahami manfaat kesehatan pribadi.
Prinsip pengembangan motorik kasar pada anak usia pra sekolah, sebagai berikut: 1) Dapat mengembangkan kemampuan motorik kasar sesuai dengan kemampuan anak, 2) Mampu meningkatkan kesegaran jasmani yang sesuai dengan kemampuan anak, 3) Dapat memperkenalkan gerakan-gerakan melalui irama musik yang disesuaikannya diberikan dalam situasi yang menarik dan menyenangkan.
2.1.2       Pengertian Motorik Halus
Aktivitas atau keterampilan dalam motorik kasar membutuhkan pengorganisasian dari otot-otot besar disertai pengerahan tenaga yang banyak. Sebaliknya dalam keterampilan motorik halus, yang dipergunakan adalah sekelompok otot-otot kecil, seperti jari-jari, tangan, lengan, dan sering membutuhkan kecermatan dan koordinasi mata dan tangan.
Menurut Iskandar (2006:13),  motorik halus adalah gerakan yang mempengaruhi otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Contohnya : mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis, menulis, merangkak, melukis , berjinjit.
Kemampuan motorik halus anak bertujuan yang diantaranya dapat meningkatkan kelenturan jari tangan anak sehingga anak bisa berkembang dengan optimal.
 Aktivitas-aktivitas untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak ( Hamdan,2010:03),  diantaranya :
1.    permukaan vertikal
Melalui latihan pada permukaan vertikal akan membantu mengembangkan otot-otot kecil pada tangan dan pergelangan, sekaligus otot-otot yang lebih besar (motorik kasar) pada lengan dan punggung. Otot-otot yang besar diperlukan untuk membantu  kestabilan sementara melakukan tugas motorik halus.
Menggambar dan  mewarnai pada papan tulis atau sepotong kertas yang paling mudah untuk menggunakan permukaan vertikal.
2.    Merobek dan Meremas
Melalui latihan merobek dan meremas kertas dapat membantu mengembangkan otot halus pada tangan, yang juga digunakan untuk menulis.
3.    Menggambar dan Mewarnai
Sering kali terjadi pada anak-anak diminta untuk menggunakan pensil, krayon, dan marker padahal tangan mereka belum siap menggunakan alat-alat tulis tersebut. Agar anak-anak bersemangat belajar memegang alat-alat tulis yang bisa membantu  perkembangan kemampuan motorik halus. Misalnya crayon yang pendek tidak lebih dari 5 cm panjangnya, akan membuat anak menggunakan keterampilan tangannya dari pada seluruh tangannya.
Pengembangan motorik halus ini, anak-anak diberi kesempatan atau mencoba untuk melakukan berbagai motorik yang disesuaikan kemampuan masing-masing anak. Gerakan motorik halus bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1.    Gerakan menggambar bentuk, contohnya: membuat garis datar, tegak, miring, dan silang kemudian dilanjutkan dengan membuat bentuk segitiga, segiempat, lingkaran, dan bujursangkar.
2.    Gerakan menulis huruf, contohnya: menulis dengan huruf-huruf yang bentuknya mudah dicontoh oleh anak, misalnya: huruf A, I, E, H, L, O,P.
3.    Gerakan yang bertujuan agar terampil menggunakan beragai alat, contohnya: meronce sedotan plastik menjadi kalung, melipat kertas dengan lipatan tegak dan menyilang, menggunting.
Kemampuan yang mesti melekat pada anak TK pada pengembangan motorik halus yang harus diketahui adalah:
a.    Memainkan atau memanifulasi adonan
b.    Memasukan benda pada benang atau meronce
c.    Memotong
Pengembangan motorik halus pada anak pra sekolah menurut Iskandar Beny (2005: 14) sebagai berikut:
1)   Mampu mengembangkan kemampuan motorik halus anak yang berhubungan dengan keterampilan gerak kedua tangan
2)   Mampu memperkenalkan gerakan jari seperti: menulis, menggambar, dan memanipulasi benda-benda dengan jari-jemari sehingga anak menjadi terampil dan matang
3)   Mampu mengkoordinasi kecepatan atau kecekatan tangan dengan gerakan mata
4)   Penguasaan emosi

Fungsi pengembangan motorik halus anak pada anak pra sekolah, sebagai berikut: 1) Alat untuk mengembangkan kemampuan motorik halus  yang berhubungan dengan keteramplan gerak kedua tangan, 2) Alat untuk meningkatkan gerakan jari seperti: menulis, menggambar, dan memanipulasi benda-benda dengan jari-jemari sehingga anak menjadi terampil dan matang,  3) Alat untuk melatih mengkoordinasikan kecepatan atau kecekatan tangan dengan gerakan mata, 4) Alat untuk melatih penguasaan emosi.
Prinsip pengembangan motorik halus pada usia anak pra sekolah, sebagai berikut: 1) Dapat mengembangkan kemampuan motorik halus yang sesuai kemampuan anak, 2) Dapat meningkatkan gerakan jari, 3) Dapat mengkoordinasikan kecepatan atau kecekatan tangan dengan gerakan mata dengan taraf  kemampuan anak, 4) Dapat melatih penguasaan emosi yang sesuai dengan anak TK, 5) Kegiatan yang harus bervariasi, 6) Melalui bimbingan dan pengawasan
Evaluasi merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sistematis oleh pendidik dalam rangka mendapatkan informasi tentang kemajuan belajar anak, yang dilakukan dala satu kesatuan waktu tertentu dan terus menerus ( Iskandar, 2006:31). Sedangkan evaluasi motorik pada anak pra sekolah adalah suatu cara menemukan bagaimana proses pembelajaran dapat memberikan tanda-tanda pencapaian kemampuan dan tahapan pada anak.
Secara lebih khusus, evaluasi pengembangang motorik pada anak pada usia pra sekolah lebih menitik beratkan pada pemberian makna dari hasil yang telah oleh anak didik, akan tetapi makna yang diberikan tidak dalam bentuk kuantitatif, sebab akan memberikan dampak psikologis yang bisa membuat anak menjadi tidak menyukai materi pelajaran yang diberikan.
Tujuan dan  maksud evaluasi pengembangan motorik pada anak usia pra sekolah, ( Iskandar, 2006:32) sebagai berikut yaitu :
a.    Mengetahui Perkembangan Anak
Perkembangan yang terjadi pada anak-anak harus dipantau, baik yang menyangkut aspek perkembangan intelektual, bahasa, motorik kasar dan halus, sosial, emosi, agama dan seni.
b.    Melakukan diagnosa kesulitan belajar anak
Evaluasi dapat dilakukan untuk mengetahui kesulitan yang dialami anak. Kemampuan anak yang satu dengan yang lainnya pasti berbeda dalam menguasai suatu pelajaran. Ada anak yang cepat menguasai pelajaran namun ada juga yang lambat atau kesulitan. Bagi anak yang mengalami kesulitan dalam  menguasai pelajaran harus segera dideteksi, pada bagian mana ia mengalami kesulitan.
c.    Melakukan Perencanaan
Pada suatu  saat pembimbing harus merencanakan dan mengelompokan anak pada kelompok pembinaan tertentu. Perencanaan dan pengelompokkan ini harus dilakukan dengan tepat, sebab kalau tidak tepat bisa menimbulkan kesulitan-kesulitan bagi anak.
d.   Pertanggungjawaban 
Sebagai pendidik yang berprofesional anda harus pertanggungjawaban kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Salah satu bentuk pertanggungjawaban itu adalah menulis laporan perkembangan anak pada orang tua. Untuk mebuat laporan itu diperlukan informasi yang akurat tentang perkembangan anak dari berbagai aspek.
Prinsip-prinsip penilaian ( Iskandar, 2006:33), diantaranya  sebagai berikut :
a.    Menyeluruh
Prinsip menyeluruh adalah penilaian yang dilakukan terhadap proses maupun hasil kegiatan anak dan juga menyangkut keseluruhan aspek perkembangan.
b.    Berkesinambungan
Prinsip ini mengisyaratkan bahwa penilaian yang dilakukan harus terencana, bertahap dan terus menerus. Hal ini dilakukan agar informasi yang diperoleh betul-betul berasal dari gambaran perkembangan belajar anak didik dan hasil dari kegiatan pembelajaran motorik.
c.    Berorientasi pada tujuan
Kegiatan evaluasi hendahnya dilakukan dengan merumuskan tujuan yang akan dicapai. Dengan demikian pendidik dapat mengetahui tingkat penguasaan perkembangan anak sesuai dengan tujuan yang diharapkan melalui kegiatan pembelajaran yang telah diberikan.
d.   Objektif
Prinsip utama yang harus dipatuhi dalam penilaian adalah obyektif artinya penilaian dilakukan baik proses maupun hasil harus sesuai dengan kemampuan anak-anak.

e.    Mendidik
Evaluasi tidak dimaksudkan untuk mencari kesalahan atau kekurangan anak, tetapi justru anak mengetahui keberhasilan dan perkembangan yang telah dicapai anak.
2.2                       Metode Pembelajaran Anak Usia Dini
Metode merupakan pedoman di dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran ( Iskandar, 2006:18). Metode pembelajaran yang baik bukan hanya mengembangkan aspek kognitif atau akademik saja, tetapi juga harus mampu membentuk manusia utuh yang cakap dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan dan cepat berubah, serta mempunyai kesadaran spiritual bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan (Megawangi, Latifah, Dina, 2004).
Tujuan program kegiatan belajar  adalah membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan keterampilan, dan daya cipta anak didik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.
Sedangkan ruang lingkup program kegiatan belajar anak meliputi pembentukan perilaku melalui pembiasaan dalam pengembangan moral pancasila, agama, disiplin, perasaan atau emosi, dan kemampuan bermasyarakat, serta pengembangan kemampuan dasar melalui kegiatan yang dipersiapkan oleh guru meliputi pengembangan kemampuan berbahasa, daya pikir, daya cipta, keterampilan, dan jasmani. Untuk mencapai tujuan itu, perlu digunakan metode pengajaran yang sesuai bagi pendidikan anak TK.
Oleh karena itu, dibutuhkan berbagai metode pengajaran atau pembelajaran agar apa yang direncanakan guru dapat membantu anak menguasai dasar kemampuan anak. Dari ketujuh metode itu biasa digunakan dalam pengjaran di Taman Kanak-Kanak, maka dalam hal ini peneliti mengambil metode pemberian tugas bagi anak.
2.2.1       Pengertian Metode Pemberian Tugas
Dalam metode yang peneliti mengambil dengan menggunakan metode Pemberian  tugas. Metode pemberian tugas adalah kegiatan belajar mengajar dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk melaksanakan tugas yang lebih disiapkan oleh guru ( Iskandar, 2006:19).
Moeslichatoen  (2004:10), Metode pemberian tugas adalah tugas atau pekerjaan yang sengaja diberikan kepada anak Taman kanak-kanak yang harus dilaksanakan dengan baik. Tugas itu diberikan kepada anak Taman kanak-kanak (TK) untuk memberikan kesempatan kepada mereka untuk meyelesaikan tugas yang didasarkan pada petunjuk langsung dari guru yang sudah dipersiapkan sehingga anak dapat menjalani secara nyata dan melaksanakan dari awal sampai tuntas. Tugas yang diberikan kepada anak dapat diberikan secara perseorangan atau kelompok” (kurikulum tk, 1986: 10).


2.2.2             Tujuan Metode Pemberian Tugas
1.    Untuk mengembangkan kreativitas anak
2.    Untuk menumbuhkan kesadaran pada diri anak bahwa apa yang dilakukan itu untuk diri sendiri.
3.    Dapat meningkatkan cara belajar anak menjadi lebih baik
2.2.3             Manfaat Metode Pemberian Tugas
1.    Dapat semakin terampil mengerjakan
2.    Dapat menanamkan kebiasaan dan sikap belajar yang positif
3.    Dapat memotivasi anak untuk belajar sendiri
4.    Dapat memperoleh pematangan penguasaan
5.    Dapat memperbaiki kesalahan cara belajar
2.2.4             Rencana Kegiatan Pemberian Tugas
Dalam persiapan guru untuk merancang kegiatan pemberian tugas adalah sebagai berikut :
1.    Menetapkan tujuan dan tema yang akan dipilih
2.    Menetapkan rancangan bahan dan alat yang diperlukan untuk kegiatan pemberian tugas
3.    Menetapkan rancangan langkah-langkah kegiatan pemberian tugas
4.    Menetapkan rancangan penilaian kegiatan pemberian tugas
2.2.5             Melaksanakan Pengajaran dengan Metode Pemberian Tugas
1.    Kegiatan Pra-Pengembangan
Kegiatan pra-pengembangan adalah persiapan yang harus dilakukan guru sebelum kegiatan pemberian tugas.
2.    Kegiatan Pengembangan
Dalam kegiatan pengembangan memberi tugas kepada anak, guru memberikan pemanasan dengan cara mengemukakan kepada anak bahwa guru akan membagikan kepada masing-masing sebuah buku yang berisi gambar yang bagus.
3.    Kegiatan Penutup
Setelah kegiatan pemberian tugas dilaksanakan sesuai dengan tujuan kegiatan pemberian tugas yang ingin dicapai, guru dapat menutup kegiatan ini dengan strategi untuk menarik perhatian dan membangkitkan minat anak serta menantang pengembangan kreativitas anak.
2.2.6               Penilaian Kegiatan Pemberian Tugas
1.    Dilaksanakan pada waktu kegiatan pembelajaran dan setelah selesai pembelajaran.
2.    Sehingga guru mengetahui berapa peran anak yang dapat menyelesaikan tugas dengan benar.
3.    Membuat akhir keputusan pengajaran, apakah kegiatan pembelajaran tugas itu sangat lancar, lancar, dan kurang lancar atau sangat berhasil, berhasil, dan kurang berhasil.
2.3                   Media Pembelajaran Anak Usia Dini
2.3.1       Pengertian Media Pemebelajaran
Menurut Asrori (2012:12),  media berasal dari bahasa latin “medium” yang berarti perantara. Media juga disebut sebagai alat peraga, audio visual, intruksional material atau sekarang ini media lebih dikenal dengan media pembelajran atau media intruksional.
Menurut Hamalik (2012:17),  media adalah alat, metode teknik yang diperggunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi anatara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar pendidikan dan pengajaran di sekkolah.
Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Arif S, Sadiman, dkk, 1986 : 6). Sedangkan menurut Anderson, media pembelajaran adalah media yang memungkinkan terwujudnya hubungan langsung antara karya seseorang pengembang mata pelajaran dengan para siswa.
Media pembelajaran memiliki peranan yang cukup besar, rasa ingin tahu anak, rasa ingin memahami dan berhasil yang ada dalam diri anak dapat dimunculkan apabila guru menggunakan media pembelajaran dalam penyajian ajaran.
Media pengajaran adalah merupakan alat yang berfungsi sebagai perantara atau penyampai isi berupa informasi pengetahuan berupa visual dan verbal untuk keperluan pengajaran ( Syafiruddin, 2010: 5).
2.3.2             Tujuan Media Pembelajaran
Menurut Achsin (1986:17-18) menyatakan bahwa tujuan penggunaan media pengajaran sebagai berikut ;
1.    Agar proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dapat berjalan dengan tepat guna dan berdaya guna.
2.    Untuk mempermudah bagi guru dalam penyampaian informasi materi kepada anak didik.
3.    Untuk mempermudah bagi anak didik dalam menyerap atau menerima serta memahami materi yang telah disampaikan oleh guru.
4.    Untuk dapat mendorong keinginan anak didik untuk mengetahui lebih banyak dan mendalam tentang materi atau pesan yang akan disampaikan oleh guru.
5.    Untuk menghindarkan salah pengertian atau salah paham antara anak didik yang satu dengan yang lain terhadap materi atau pesan yang disampaikan oleh guru.
Menurut Supadi (1983:25), fungsi media pengajaran dari ensiklopedia penelitian pendidikan sebagai berikut :
1.      Memperbesar perhatian siswa
2.      Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar
3.      Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menimbulkan kegiatan berusaha sendiri dikalangan siswa
4.      Membantu tubuhnya pengertian dan kemampuan berbahasa
5.      Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta keragaman dalam belajar
2.3.3             Manfaat Media Pembelajaran
Manfaat media pembelajaran diantaranya sebagai berikut :
1.    Dapat menarik dan memperbesar perhatian anak didik terhadap materi pengajaran yang disajikan pendidikan
2.    Dapat mengatasi perbedaan pengalaman belajar anak didik berdasarkan latar belakang sosial ekonomi
3.    Dapat membantu anak didik dalam memberikan pengalaman belajar yang sulit diperoleh dengan cara lain
Dalam hal ini peneliti mengambil media atau teknik pengajaran di TK ini menggunakan teknik merobek.
2.3.4             Pengertian Merobek
Menurut Wang Jiang (2011:5), merobek kertas merupakan seni yang sangat mudah, namun itu diperlukan latihan untuk membuat gambar subjek yang akurat, tanpa menggunakan garis saat awal merobek kertas.
2.3.5             Tujuan Merobek
Tujuan merobek untuk meningkatkan motorik halus ( Forum kompas, 2010: 17) sebagai berikut:
1.    Untuk melatih motorik halus anak, guru bisa melatih anak untuk merobek-robek kertas menjadi paling kecil.
2.    Merobek kertas dapat menjadi aktivitas yang bagus untuk anak.
3.    Untuk menstimulasi kemampuan motorik halus.
2.3.6       Manfaat Merobek
Manfaat teknik merobek untuk meningkatkan kemampuan motorik halus ( pondok ibu, 2011: 24) diantaranya sebagai berikut:
1.     Pemahaman bahwa kertas dapat berubah bentuk bila dirobek
2.     ketrampilan mendengar dengan tujuan tertentu (mendengarkan kertas robek)
3.     Pemahaman bagaimana membersihkan tempat yang berantakan (dengan meletakkan kertas dikantong)
4.     Keyakinan diri dan kemandirian.


























BAB III
                                    METODOLOGI PENELITIAN

3.1                    Metode Penelitian
“Penelitian Tindakan Kelas adalah untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan atau cara pendekatan baru untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung” . Metede penelitian yang digunakan dalam penelitian ini  adalah Penelitian Tindakan Kelas atau classroom Action Research (PTK).
Menurut Wiriaatmadja (2005 : 11), Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan subtansif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami sesuatu yang sedang terjadi sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.
 Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru kelasnya tempat ia mengajar dengan dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktis pembelajaran.
Menurut Arikunto (2010 : 58),  bahwa “Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pemebelajaran di kelasnya”.
3.1.1       Tujuan Penelitian Tindakan kelas (PTK).
Tujuan utama Penelitian Tindakan Kelas adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan untuk menghasilkan pengetahuan. Tujuan penelitian kindakan kelas adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik pembelajaran secara berkesinambungan, sehingga meningkatkan suatu hasil intruksional, mengembangkan keterampilan guru, meningkatkan relevansi, meningkatkan efisiensi pengelolaan intruksional serta menumbuhkan budaya penelitian pada komunitas guru.
Penelitian tindakan kelas memiliki manfaat yang sangat penting bagi perkembangan profesionalisme guru. Guru yang profesional tentu tidak akan melakukan perubahan-perubahan dalam proses pembelajaran itu tetap relevan, walaupun model yang diterapkannya sekarang sudah dirasakan memuaskan oleh sebagian besar.
3.1.2       Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi guru sangat banyak sekali diantaranya adalah membantu guru memperbaiki mutu pembelajaran , meningkatkan profesionalitas guru, meningkatkan rasa percaya diri guru, memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya.
Menurut Sukardi (2003:214), siklus penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar Classroom Action Research dikemukakan oleh model  Kemmis-Mc, Taggart dikembangakan oleh Stephen Kemmis dan Robin Mc Taggart (1988), mereka menggunakan empat komponen penelitian tindakan (perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi) diantaranya sebagai berikut:

PERENCANAAN
SIKLUS 1
        
REFLEKSI
PELAKSANAAN TINDAKAN
PENGAMATAN

REFLEKSI

SIKLUS II
PERENCANAAN
PENGAMATAN
 







           
PELAKSANAAN TINDAKAN
PENGAMATAN

REFLEKSI

KESIMPULAN
PELAKSANAAN TINDAKAN
SIKLUS III
PERENCANAAN
 















Gambar 3.1
Diagram Alur Desain PTK Model Kemmis MC Taggart
( Wiriaatmadja, 2006:66 )


3.2                   Prosedur Penelitian
3.2.1             Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian dilaksanakan dengan 3 siklus, yaitu setiap siklus pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan prosedur sebagai berikut :
3.2.2              Tahap Pelaksanaan Siklus
1.    Siklus Pertama
a.    Perencanaan
Pada tahap ini peneliti bersama observer pendamping (secara kolaboratif) merumuskan dan mempersiapkan,  rencana jadwal pelaksanaan tindakan, pelaksanaan pembelajaran, materi atau bahan pelajaran sesuai dengan pokok bahasan, lembar kerja siswa, lembar penilaian hasil belajar, instrumen lembar observasi dan analisis data.
b.    Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan ini merupakan pelaksanaan tindakan dari persiapan pembelajaran yang telah direncanakan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Dalam proses pembelajaran dilaksanakan oleh peneliti selaku guru dan dibantu oleh seorang pendamping yang berperan sebagai penilai.  
c.    Pengamatan
Pada tahap ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan peneliti bersama observer pendamping  untuk melakukan pengamatan terhadap aktivitas proses belajar siswa. Pengamatan tersebut dilakukan untuk mengenali, mengumpulkan data dari setiap indikator mengenai unjuk kerja siswa dalam proses belajar mengajar, dan objek pengamatan itu adalah hasil kemampuan merobek dan menempel sesuai dengan  indikator penilaian yang ditetapkan.
d.   Reflaksi
Pada tahap reflaksi, peneliti menyimpulkan hasil dari tindakan pada setiap akhir pelaksanaan tindakan. Data yang telah terkumpul kemudian ditindak lanjutin dengan melakukan analisisa, sehingga hasil dapat diketahui akan hasil dari pelaksanaan tindakan yang dilakukan.
2.    Siklus kedua
a.    Perencanaan
Pada tahap ini peneliti bersama observer pendamping (secara kolaboratif) merumuskan dan mempersiapkan, rencana jadwal pelaksanaan tindakan, pelaksanaan pembelajaran, materi atau bahan pelajaran sesuai dengan pokok bahasan, lembar kerja siswa, lembar penilaian hasil belajar, instrumen lembar observasi dan analisis data.
b.      Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan ini merupakan pelaksanaan tindakan dari persiapan pembelajaran yang telah direncanakan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Dalam proses pembelajaran dilaksanakan oleh peneliti selaku guru dan dibantu oleh seorang pendamping yang berperan sebagai penilai. 

c.    Pengamatan
Pada tahap ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan peneliti bersama observer pendamping  untuk melakukan pengamatan terhadap aktivitas proses belajar siswa. Pengamatan tersebut dilakukan untuk mengenali, mengumpulkan data dari setiap indikator mengenai unjuk kerja siswa dalam proses belajar mengajar, dan objek pengamatan itu adalah hasil kemampuan merobek dan menempel sesuai dengan indikator penilaian yang ditetapkan.
d.   Reflaksi
Pada tahap reflaksi, peneliti menyimpulkan hasil dari tindakan pada setiap akhir pelaksanaan tindakan. Data yang telah terkumpul kemudian ditindak lanjutin dengan melakukan analisisa, sehingga hasil dapat diketahui akan hasil dari pelaksanaan tindakan yang dilakukan.
3.    Siklus Ketiga
a.    Perencanaan
Pada tahap ini peneliti bersama observer pendamping (secara kolaboratif) merumuskan dan mempersiapkan, rencana jadwal pelaksanaan tindakan, pelaksanaan pembelajaran, materi atau bahan pelajaran sesuai dengan pokok bahasan, lembar kerja siswa, lembar penilaian hasil belajar, instrumen lembar observasi dan analisis data.
b.      Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan ini merupakan pelaksanaan tindakan dari persiapan pembelajaran yang telah direncanakan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Dalam proses pembelajaran dilaksanakan oleh peneliti selaku guru dan dibantu oleh seorang pendamping yang berperan sebagai penilai. 
c.       Pengamatan
Pada tahap ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan peneliti bersama observer pendamping  untuk melakukan pengamatan terhadap aktivitas proses belajar siswa. Pengamatan tersebut dilakukan untuk mengenali, mengumpulkan data dari setiap indikator mengenai unjuk kerja siswa dalam proses belajar mengajar, dan objek pengamatan itu adalah hasil kemampuan merobek dan menempel sesuai dengan indikator penilaian yang ditetapkan.
d.   Reflaksi
Pada tahap reflaksi, peneliti menyimpulkan hasil dari tindakan pada setiap akhir pelaksanaan tindakan. Data yang telah terkumpul kemudian ditindak lanjutin dengan melakukan analisisa, sehingga hasil dapat diketahui akan hasil dari pelaksanaan tindakan yang dilakukan.
3.3          Teknik Pengumpulan Data
Suatu penelitian memerlukan data atau informasi yang akan berguna untuk bahan pemecahan masalah yang ditemukan dalam penelitian tersebut. Untuk itu diperlukan teknik pengumpulan data yang tepat agar penelitian mencapai tujuan yang akan diinginkan.
Adapun teknik yang akan dipergunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini yaitu :
1.    Observasi.
Merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mencari dan memperoleh data tentang kondisi objektif lokasi penelitian yang meliputi kondisi siswa, kondisi suasana belajar mengajar serta kondisi bangunan dengan cara mengadakan tinjauan langsung ke lokasi.
Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (1983 : 111), bahwa observasi itu meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera. Jadi observasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap. Apa yang dikatakan ini sebenarnya adalah pengalaman langsung.
2.    Tes Kemampuan.
Teknik digunakan untuk memperoleh data tentang kemampuan anak secara perorangan dalam penerapan teknik merobek untuk meningkatkan motorik halus anak.
3.4                   Teknik Pengolahan Data
Dalam penelitian ini pengolahan data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif. Dari subjek penelitian sebanyak 15 orang yang dilakukan penelitian atau observasi. Terlebih dahulu dilakukan kegiatan untuk mengetahui kemampuan awal pada anak. Kemudian dituangkan ke dalam formal observasi sesuai dengan aspek yang diteliti dengan kriteria sebagai berikut :
1.    Pencapaian teknik merobek dan menempel pada anak didik cenderung menonjol positif Berkembang Sesuai Harapan (BSH) pada anak yang mampu motorik halusnya diberi tanda bintang tiga.          
2.    Pencapaian teknik merobek dan menempel pada anak didik yang Mulai Berkembang (MB) mampu  pada kemampuan motorik halusnya diberi tanda bintang dua.
3.    Pencapain teknik merobek dan menempel pada anak didik yang belum berkembang (BB) dalam hal motorik halusnya diberi tanda bintang satu.
4.   
X = ( N : S ) x 100%.

Dari data yang diperoleh tersebut, maka penulis menggunakan rumus untuk menghitung persentase kemampuan anak dengan cara :
     Rumus :
     Keterangan  : X adalah persentase hasil anak yang ingin diketahui.
                        N adalah kemampuan anak.
                        S adalah jumlah anak
3.5                   Instrumen Penelitian
Dalam intrumen penelitian ini, diantaranya sebagai berikut:
3.5.1             Silabus
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran atau tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok atau pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber atau alat belajar.


3.5.2             RPP
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan oleh silabus.
3.5.3             Kisi-kisi Instrumen Penelitian

Tabel 3.1
Kisi-Kisi Instrumen Penelitian

Untuk mempermudah pengumpulan data, peneliti menggunakan instrumen penelitian seperti dibawah ini:
Variabel
Indikator
Butir Item
Teknik Penggumpulan Data
Nomor Item
Jumlah Item
Kemampuan merobek kertas 
Membuat gambar dengan teknik merobek dengan   media kertas.
1.    Anak dapat merobek kertas secara acak.
2.    Anak dapat merobek kertas menurut garis lurus.
3.    Anak dapat merobek kertas menurut lengkung.
4.    Anak dapat merobek kertas menurut garis miring.
5.    Anak dapat merobek kertas menurut ukuran besar.
6.    Anak dapat merobek ketas menurut ukuran kecil.
7.    Anak dapat merobek kertas menurut ukuran sedang.
Test



Test




Test




Test




Test




Test




Test





1,2,3,4,5,6,7.
7
Kemampuan menempel kertas pada gambar.
Membuat gambar   dengan teknik kolase dengan media kertas

8.    Anak dapat menempel kertas menurut pola segitiga.
9.    Anak dapat menempel kertas menurut pola lingkaran.
10.                  Anak dapat menempel kertas menurut pola segi empat.
11.                  Anak dapat menempel kertas pada gambar yang telah disediakan guru.

Test




Test




Test





Test

8,9,10,11.
4

3.5.4             Pedoman Tes Kemampuan Merobek
Lembar ini berupa aspek-aspek anak yang dinilai oleh guru dalam penerapan teknik merobek untuk meningkatkan motorik halus anak selama proses pembelajaran berlangsung. Adapun aspek yang dinilai ( Permen 58, 2009:13), sebagai berikut :
TABEL 3.2
Pedoman Tes
Kemampuan Motorik Halus

Nama anak yang diamati :                              Usia     :
Pengamat                        :                              Tanggal :
NO
Pernyataan
Hasil Pengamatan
BB
MB
BSH
1.
Anak dapat merobek kertas secara acak.



2.
Anak dapat merobek kertas menurut garis lurus



3.
Anak dapat merobek kertas menurut garis lengkung.



4.
Anak dapat merobek kertas menurut garis miring.



5.
Anak dapat merobek kertas menurut ukuran besar.



6.
Anak dapat merobek kertas menurut ukuran  kecil.



7.
Anak dapat merobek kertas menurut ukuran sedang.



8.
Anak dapat menempel kertas menurut pola segitiga.



9.
Anak dapat menempel kertas sesuai menurut pola lingkaran.



10.
Anak dapat menempel kertas sesuai pola segi empat.



11.
Anak dapat menempel kertas pada gambar yang disediakan guru.




Keterangan    :  BB    : Belum Berkembang (skor 1)
            MB    : Mulai berkembang (skor 2)
            BSH   : Berkembang Sesuai Harapan (skor 3)

3.6                   Ruang Lingkup Penelitian
3.6.1             Variabel Penelitian
Variabel yang diteliti dibedakan kedalam dua katagori, yaitu variabel bebas (x) atau variabel berpengaruh dan tidak bebas (y).
3.6.2             Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah kelompok B di PAUD Nuurul Iman yang berjumlah 15 orang terdiri dari 8 anak laki-laki  dan 7 anak perempuan.
3.6.3             Lokasi Penelitian
Lokasi tempat penelitian dilaksanakan adalah di PAUD Nuurul Iman Dusun Gudang, Desa Gudang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Agar penelitian ini sesuai dengan apa yang diharapkan maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian, yaitu di PAUD Nuurul Iman, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat.
3.6.4             Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan selama satu bulan di Paud Nuurul Iman.






BAB IV
   HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1                   Deskripsi Kondisi Awal
Paud Nuurul Iman berdiri pada Tahun 2009, Paud Nuurul Iman memiliki satu ruangan Kepala Sekolah, tiga ruangan kelas (kelas bulan, kelas bintang, dan kelas matahari), satu perpustakaan, satu ruangan mushola, dan  satu ruangan bimbingan belajar.
Pada tahun 2011-2012 jumlah siswa adalah sebanyak 50 anak kelas bulan 15 anak, dan kelas bintang 15 anak, dan kelas matahari 20 anak. Sedangkan daftar anak sebagai objek penelitian kelompok B atau kelas bintang dinyatakan dalam tabel berikut ini.
Tabel 4.1
Daftar Anak Siswa

NO
NAMA SISWA
KETERANGAN
1.
Andita
P
2.
Apip
L
3.
Anisa
P
4.
Dea y
P
5.
Denova
L
6.
Dimas
L
7.
Farrel
L
8.
M.Yusuf
L
9.
Nurul
P
10.
Rahayu
P
11.
Reihan
L
12.
Rifky
L
13.
Sri Hanifah
P
14.
Witri
P
15.
Zidan
L

 





































































































































4.2                   Deskripsi Siklus I
1.    Perencanaan Tindakan
Tiap siklus dilaksanakan dengan satu tindakan sesuai dengan perbaikan yang ingin dicapai selama pembelajaran. Sebelum melaksanakan metode pembelajaran ini, seorang guru harus memiliki persiapan dan perencanaan yang cukup. Tanpa persiapan dan perencanaan, maka sulit bagi guru untuk melaksankannya.
Kegiatan persiapan dan perencanaan itu diantranya:
a.    Guru mempersiapkan RKH (Rencana Kegiatan Harian), termasuk memprsiapkan materi yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran cara menyampaikan dan menentukan tujuan yang diharapkan setelah proses pembelajaran.
b.    Menentukan aspek-aspek perilaku anak yang akan diobservasi.
c.    Menentukan cara refleksi.
d.   Menetapkan kriteria keberhasilan dalam pemecahan masalah.
e.    Guru mempersiapkan alat peraga yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan.
f.     Guru mempersiapkan LKS yang harus diisi anak.
2.    Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan ini merupakan pelaksanaan tindakan dari persiapan pembelajaran yang telah direncanakan sebelumnya. Pada umumnya pelaksanaan proses belajar mengajar di dalam kelas terbagi ke dalam tiga bagian kegiatan guru dan siswa, yaitu sebegai berikut:
a.    Pendahuluan:
1). Mempersiapkan kondisi ke dalam kondisi pembelajaran kegiatan belajar mengajar.
2). Mencatat kehadiran siswa.
Apersepsi : siswa diingatkan kembali tentang materi pada pertemuan sebelumnya dengan tanya jawab.
Motivasi : guru meminta siswa untuk menjelaskan sesuatu yang hubungannya dengan materi.
b.    Langkah utama : pembahasan materi dengan menggunakan metode pemberian tugas.
c.    Langkah penutup guru penilaian pada siswa.
3.    Hasil Pengamatan
Menurut catatan observer, dalam siklus ke 1 ini ternyata anak masih banyak kekurangan dan tentunya ada beberapa hal yang sudah bagus dan perlu dipertahankan, mungkin banyak faktor yang menyebabkan dalam hal tersbut terjadi seperti belum terbiasa menggunakan metode pemberian tugas dengan alat peraga lembar kerja siswa adapun data tentang aktivitas kegiatan belajar mengajar guru.
Guru memulai pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran kegiatan belajar mengajar pada siswa waktu kegiatan berlangsung. Guru memberikan penjelasan materi kepada siswa, berdasarkan hasil pengamatan observasi sudah baik, ini menunjukan guru menguasai materi pembelajaran yang sudah disampaikan kepada anak.
Guru mengamati kegiatan siswa sudah baik, artinya guru mengamati seluruh aktivitas anak. Guru memberikan bimbingan sudah baik, ini menandakan bahwa guru selalu menyediakan waktu untuk anak-anak yang belum mampu dalam pembelajaran.
Data kemampuan merobek dapat dilihat pada tabel berikut:
































































Berdasarkan hasil pengamatan guru masih banyak ada anak yang ditemukan dilapangan dalam pembelajaran merobek dan menempel kertas pada gambar dengan menggunakan media kertas pada anak melalui metode pemberian tugas.
Dari hasil data temuan yang terjadi ketika pelaksanaan siklus 1 berlangsung adalah ketika guru sedang menerangkan cara-cara merobek dan menempel kertas masih ada anak yang tidak konsentrasi.
Beberapa temuan dari hasil belajar anak dalam hal pembelajaran merobek dan menempel kertas pada gambar dengan menggunakan media kertas, sebagai berikut:
1.    Anak dapat merobek kertas secara acak.
Terdapat 15 orang anak,  ternyata baru 8 orang anak yang belum berkembang, 4 orang anak yang mulai berkembang, dan 3 orang anak yang berkembang sesuai harapan.  
2.    Anak dapat merobek kertas menurut garis lurus.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 7 orang anak yang belum berkembang, 4 orang anak yang mulai berkembang, dan 4 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
3.    Anak dapat merobek kertas menurut garis lengkung.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 9 orang anak yang belum berkembang, 4 orang anak yang mulai berkembang, dan 2 orang anak yang berkembang sesuai harapan.

4.    Anak dapat merobek kertas menurut garis miring.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 9 orang anak yang belum berkembang, 5 orang anak yang mulai berkembang, dan 1 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
5.    Anak dapat merobek kertas menurut ukuran besar.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 8 orang anak yang belum berkembang, 4 orang anak yang mulai berkembang, dan 3 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
6.    Anak dapat merobek kertas menurut ukuran kecil.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 7 orang anak yang belum berkembang, 6 orang anak yang mulai berkembang, dan 2 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
7.    Anak dapat merobek kertas menurut ukuran sedang.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 9 orang anak yang belum berkembang, 5 orang anak yang mulai berkembang, dan 1 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
8.    Anak dapat menempel kertas menurut pola segitiga.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 10 orang anak yang belum berkembang, 4 orang anak yang mulai berkembang, dan 1 orang anak yang berkembang sesuai harapan.



9.    Anak dapat menempel kertas menurut pola lingkaran.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 10 orang anak yang belum berkembang, 4 orang anak yang mulai berkembang, dan 1 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
10.Anak dapat menempel kertas menurut pola segi empat.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 10 orang anak yang belum berkembang, 4 orang anak yang mulai berkembang, dan 1 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
11. Anak dapat menempelkan kertas pada gambar yang telah disediakan guru.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 9 orang anak yang belum berkembang, 5 orang anak yang mulai berkembang, dari 1 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
4.    Refleksi
Setelah selesai melakasanakan pembelajaran merobek dan menempelkan kertas dengan menggunakan kertas melalui metode pemberian  tugas, peneliti selaku observer memperoleh temuan yg perlu ditindak lanjuti. Temuan-temuan tersebut kemudian didiskusikan dan ditingkatkan, ada juga yg harus dijadikan bahan perbaikan lagi untuk silkus berikutnya.
Temuan  pada siklus ke 1 ini di peroleh gambaran bahwa upaya kemampuan motorik halus melalui metode pemberian tugas dengan teknik merobek di PAUD Nuurul Iman Tanjungsari,  terdapat anak yang Belum Berkembang (6,53%), anak yang Mulai Berkembang (3,26%), dan anak yang Berkembang Sesuai Harapan (1,33%).
4.3       Deskripsi Siklus II
1.    Perencanaan Tindakan
Sebelum melaksanakan metode pembelajaran ini, seorang guru harus memiliki persiapan dan perencanaan yang cukup. Tanpa persiapan dan perencanaan, maka sulit bagi guru untuk melaksankannya.
Kegiatan persiapan dan perencanaan itu diantranya:
a.    Guru mempersiapkan RKH (Rencana Kegiatan Harian), termasuk memprsiapkan materi yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran cara menyampaikan dan meneatukan tujuan yang diharapkan setelah proses pembelajaran.
b.    Menentukan aspek-aspek perilaku anak yang akan diobservasi.
c.    Menentukan cara refleksi.
d.   Menetapkan kriteria keberhasilan dalam pemecahan masalah.
e.    Guru mempersiapkan alat peraga yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan.
f.     Guru mempersiapkan LKS yang harus diisi anak.
2.    Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan ini merupakan pelaksanaan tindakan dari persiapan pembelajaran yang telah direncanakan sebelumnya.  Pada umumnya pelaksanaan proses belajar mengajar di dalam kelas terbagi ke dalam tiga bagian kegiatan guru dan siswa, yaitu sebegai berikut:
a.    Pendahuluan:
1).Mempersiapkan kondisi ke dalam kondisi pembelajaran kegiatan belajar mengajar.
2). Mencatat kehadiran siswa.
Apersepsi : siswa diingatkan kembali tentang materi pada pertemuan sebelumnya dengan tanya jawab.
Motivasi : guru meminta siswa untuk menjelaskan sesuatu yang hubungannya dengan materi.
b.    Langkah utama : pembahasan materi dengan menggunakan metode pemberian tugas.
c.    Langkah penutup guru penilaian pada siswa.
3.    Hasil Pengamatan
Dalam siklus ke II ini ternyata anak sudah ada beberapa orang anak yang meningkat  dalam kemampuan merobek dan menempel kertas pada gambar dari yang sebelumnya.
Guru memulai pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran kegiatan belajar mengajar pada siswa waktu kegiatan berlangsung. Guru memberikan penjelasan materi kepada siswa, berdasarkan hasil pengamatan observasi sudah baik, ini menunjukan guru menguasai materi pembelajaran yang sudah disampaikan kepada anak.
Guru mengamati kegiatan siswa sudah baik, artinya guru mengamati seluruh aktivitas anak. Guru memberikan bimbingan sudah baik, ini menandakan bahwa guru selalu menyediakan waktu untuk anak-anak yang belum mampu dalam pembelajaran.
Data kemampuan merobek  dapat dilihat pada tabel berikut:
























































































Berdasarkan hasil pengamatan guru sudah mulai beberapa anak yang mulai memahami dalam pembelajaran merobek dan menempel kertas pada gambar dengan menggunakan media kertas pada anak melalui metode pemberian tugas.
Dari hasil data temuan yang terjadi ketika pelaksanaan siklus 1I berlangsung adalah ketika guru sedang menerangkan cara-cara merobek dan menempel kertas sudah hapir mulai memperhatikan guru.
Beberapa temuan dari hasil belajar anak dalam hal pembelajaran merobek dan menempel kertas pada gambar dengan menggunakan media kertas, sebagai berikut:
1.    Anak dapat merobek kertas secara acak.
Terdapat 15 orang anak,  ternyata baru 2 orang anak yang belum berkembang, 8 orang anak yang mulai berkembang, dan 5orang anak yang berkembang sesuai harapan. 
2.    Anak dapat merobek kertas menurut garis lurus.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 3 orang anak yang belum berkembang, 8 orang anak yang mulai berkembang, dan 4 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
3.    Anak dapat merobek kertas menurut garis lengkung.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 5 orang anak yang belum berkembang, 6 orang anak yang mulai berkembang, dan 4 orang anak yang berkembang sesuai harapan.

4.    Anak dapat merobek kertas menurut garis miring.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 5 orang anak yang belum berkembang, 7 orang anak yang mulai berkembang, dan 3 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
5.    Anak dapat merobek kertas menurut ukuran besar.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 4 orang anak yang belum berkembang, 8 orang anak yang mulai berkembang, dan 3 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
6.    Anak dapat merobek kertas menurut ukuran kecil.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 6 orang anak yang belum berkembang, 7 orang anak yang mulai berkembang, dan 2 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
7.    Anak dapat merobek kertas menurut ukuran sedang.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 3 orang anak yang belum berkembang, 9 orang anak yang mulai berkembang, dan 3 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
8.    Anak dapat menempel kertas menurut pola segitiga.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 4 orang anak yang belum berkembang, 8 orang anak yang mulai berkembang, dan 3 orang anak yang berkembang sesuai harapan.



9.    Anak dapat menempel kertas menurut pola lingkaran.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 4 orang anak yang belum berkembang, 7 orang anak yang mulai berkembang, dan 4 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
10.Anak dapat menempel kertas menurut pola segi empat.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 3 orang anak yang belum berkembang, 8 orang anak yang mulai berkembang, dan 4 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
11.Anak dapat menempelkan kertas pada gambar yang telah disediakan guru.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 4 orang anak yang belum berkembang, 8 orang anak yang mulai berkembang, dan 3 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
4.    Refleksi
Setelah selesai melakasanakan pembelajaran merobek dan menempelkan kertas dengan menggunakan kertas melalui metode pemberian  tugas, peneliti selaku observer memperoleh temuan yg perlu ditindak lanjuti. Temuan-temuan tersebut kemudian didiskusikan dan ditingkatkan, ada juga yg harus dijadikan bahan perbaikan lagi untuk silkus berikutnya.
Temuan  pada siklus ke II ini di peroleh gambaran bahwa upaya kemampuan motorik halus melalui metode pemberian tugas dengan teknik merobek di PAUD Nuurul Iman Tanjungsari,  terdapat anak yang belum berkembang (2,86%), anak yang mulai berkembang (5,59%), dan anak yang berkembang sesuai harapan (2,53%).
4.4                   Deskripsi Siklus III
1.    Perencanaan Tindakan
Sebelum melaksanakan metode pembelajaran ini, seorang guru harus memiliki persiapan dan perencanaan yang cukup. Tanpa persiapan dan perencanaan, maka sulit bagi guru untuk melaksankannya.
Kegiatan persiapan dan perencanaan itu diantranya:
a.    Guru mempersiapkan RKH (Rencana Kegiatan Harian), termasuk memprsiapkan materi yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran cara menyampaikan dan meneatukan tujuan yang diharapkan setelah proses pembelajaran.
b.    Menentukan aspek-aspek perilaku anak yang akan diobservasi.
c.    Menentukan cara refleksi.
d.   Menetapkan kriteria keberhasilan dalam pemecahan masalah.
e.    Guru mempersiapkan alat peraga yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan.
f.     Guru mempersiapkan LKS yang harus diisi anak.
2.    Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan ini merupakan pelaksanaan tindakan dari persiapan pembelajaran yang telah direncanakan sebelumnya.  Pada umumnya pelaksanaan proses belajar mengajar di dalam kelas terbagi ke dalam tiga bagian kegiatan guru dan siswa, yaitu sebegai berikut:
a.    Pendahuluan:
1). Mempersiapkan kondisi ke dalam kondisi pembelajaran kegiatan belajar mengajar.
2). Mencatat kehadiran siswa.
Apersepsi : siswa diingatkan kembali tentang materi pada pertemuan sebelumnya dengan tanya jawab.
Motivasi : guru meminta siswa untuk menjelaskan sesuatu yang hubungannya dengan materi.
b.    Langkah utama : pembahasan materi dengan menggunakan metode pemberian tugas.
c.    Langkah penutup guru penilaian pada siswa.
3.    Hasil Pengamatan
Dalam siklus ke III ini ternyata anak sudah meningkat  dalam kemampuan merobek dan menempel kertas pada gambar dari yang sebelumnya.
Guru memulai pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran kegiatan belajar mengajar pada siswa waktu kegiatan berlangsung. Guru memberikan penjelasan materi kepada siswa, berdasarkan hasil pengamatan observasi sudah baik, ini menunjukan guru menguasai materi pembelajaran yang sudah disampaikan kepada anak.
Guru mengamati kegiatan siswa sudah baik, artinya guru mengamati seluruh aktivitas anak. Guru memberikan bimbingan sudah baik, ini menandakan bahwa guru selalu menyediakan waktu untuk anak-anak yang sudah mampu dalam pembelajaran.
Data kemampuan menulis dini dapat dilihat pada tabel berikut:















































































































Berdasarkan hasil pengamatan guru sudah meningkat dalam hal anak memahami dalam pembelajaran merobek dan menempel kertas pada gambar dengan menggunakan media kertas pada anak melalui metode pemberian tugas.
Dari hasil data temuan yang terjadi ketika pelaksanaan siklus III berlangsung adalah ketika guru sedang menerangkan cara-cara merobek dan menempel kertas sudah memperhatikan guru.
Beberapa temuan dari hasil belajar anak dalam hal pembelajaran merobek dan menempel kertas pada gambar dengan menggunakan media kertas, sebagai berikut:
1.      Anak dapat merobek kertas secara acak.
Terdapat 15 orang anak,  ternyata baru 0 orang anak yang belum berkembang, 1 orang anak yang mulai berkembang, dan 14 orang anak yang berkembang sesuai harapan. 
2.    Anak dapat merobek kertas menurut garis lurus.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 2 orang anak yang belum berkembang, 1 orang anak yang mulai berkembang, dan 12 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
3.    Anak dapat merobek kertas menurut garis lengkung.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 1 orang anak yang belum berkembang, 6 orang anak yang mulai berkembang, dan 8 orang anak yang berkembang sesuai harapan.

4.    Anak dapat merobek kertas menurut garis miring.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 1 orang anak yang belum berkembang, 5 orang anak yang mulai berkembang, dan 9 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
5.    Anak dapat merobek kertas menurut ukuran besar.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 0 orang anak yang belum berkembang, 7 orang anak yang mulai berkembang, dan 8 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
6.    Anak dapat merobek kertas menurut ukuran kecil.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 0 orang anak yang belum berkembang, 7 orang anak yang mulai berkembang, dan 8 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
7.    Anak dapat merobek kertas menurut ukuran sedang.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 0 orang anak yang belum berkembang, 7 orang anak yang mulai berkembang, dan 8 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
8.    Anak dapat menempel kertas menurut pola segitiga.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 0 orang anak yang belum berkembang, 3 orang anak yang mulai berkembang, dan 10 orang anak yang berkembang sesuai harapan.



9.    Anak dapat menempel kertas menurut pola lingkaran.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 1 orang anak yang belum berkembang, 5 orang anak yang mulai berkembang, dan 9 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
10.     Anak dapat menempel kertas menurut pola segi empat.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 1 orang anak yang belum berkembang, 2  orang anak yang mulai berkembang, dan 12 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
11. Anak dapat menempelkan kertas pada gambar yang telah disediakan guru.
Terdapat 15 orang anak, ternyata baru 0 orang anak yang belum berkembang, 5 orang anak yang mulai berkembang, dan 10 orang anak yang berkembang sesuai harapan.
4.    Refleksi
Setelah selesai melakasanakan pembelajaran merobek dan menempelkan kertas dengan menggunakan kertas melalui metode pemberian  tugas, peneliti selaku observer memperoleh temuan yg tidak perlu ditindak lanjuti.
Temuan  pada siklus ke III ini di peroleh gambaran bahwa upaya kemampuan motorik halus melalui metode pemberian tugas dengan teknik merobek di PAUD Nuurul Iman Tanjungsari,  terdapat anak yang belum berkembang (0,39%), anak yang mulai berkembang (3,39%), dan anak yang berkembang sesuai harapan (4,19%).
Tabel 4.6
Rekapitulasi Kemampuan Merobek Kertas
 Tiap Anak.

No
Subjek
Nilai Tes Siswa pada Pembelajaran Siklus
1
2
3
1.
Andita
23
28
33
2.
Apip
14
22
32
3.
Anisa
13
22
27
4.
Dea y
14
20
28
5.
Denova
16
18
28
6.
Dimas
16
19
26
7.
Farrel
13
18
22
8.
M.Yusuf
20
25
29
9.
Nurul
17
18
23
10.
Rahayu
17
20
32
11.
Reihan
16
17
27
12.
Rifky
16
21
30
13.
Sri Hanifah
16
25
32
14.
Witri
17
23
32
15.
Zidan
26
29
33

Jumlah
254
325
434

Rata-rata
16,93
21,66
28,93

Perolehan hasil belajar  per indikator, sebagai berikut:
1.    Pada indikator pertama hasil belajar anak pada  siklus ke I terdiri dari 7 item dari 15 orang yang diteliti ternyata yang mendapatkan nilai (8,55%) anak yang belum berkembang, (4,8%) anak yang mulai berkembang, dan (2,4%) anak yang berkembang sesuai harapan.
2.    Pada indikator ke dua hasil belajar pada siklus ke 1 terdiri dari 4 item dari 15 orang yang diteliti ternyata yang mendapatkan nilai (5,85%) anak yang belum berkembang, (2,55%) anak yang mulai berkembang, dan (0,4%) anak yang berkembang sesuai harapan.
Tabel 4.7
Hasil Penilaian Kemampuan Merobek Siklus I

No
Indikator yang dinilai
Nilai yang diperoleh
BB
MB
BSH
1.
Membuat gambar dengan teknik merobek dengan memakai  media kertas.

57
32
16

Persentase
8,55%
4,8%
2,4%
2
Membuat gambar   dengan teknik kolase dengan memakai media kertas

39
17
4

Persentase
5,85%
2,55%
0,6%

Diagram hasil Penilaian Kemampuan Merobek Siklus I :

Gambar 4.1
 Hasil Kemampuan merobek pada Siklus I

Perolehan hasil belajar  per indikator, sebagai berikut:
1.    Pada indikator pertama hasil belajar anak pada  siklus ke II terdiri dari 7 item dari 15 orang yang diteliti ternyata yang mendapatkan nilai (4,2%) anak yang belum berkembang, (7,95%) anak yang belum berkembang, dan (3,6%) anak yang berkembang sesuai harapan.
2.    Pada indikator ke dua hasil belajar pada siklus ke 1I terdiri dari 4 item dari 15 orang yang diteliti ternyata yang mendapatkan nilai (2,25%) anak yang belum berkembang, (4,65%) anak yang mulai berkembang, dan (2,1%) anak yang berkembang sesuai harapan.
  Tabel 4.8
Hasil Kemampuan Merobek Siklus II

No
Indikator yang dinilai
Nilai yang diperoleh
BB
MB
BSH
1.
Membuat gambar dengan teknik merobek dengan memakai  media kertas.

28
53
24

Jumlah
4,2%
7,95%
3,6%
2
Membuat gambar   dengan teknik kolase dengan memakai media kertas

15
31
14

Jumlah
2,25%
4,65%
2,1%

Diagram  Hasil Penilaian Kemampuan Merobek Siklus II:

Gambar 4.2
Hasil Penilaian Kemampuan merobek pada Siklus II

Perolehan hasil belajar  per indikator, sebagai berikut:
1.    Pada indikator pertama hasil belajar anak pada  siklus ke III terdiri dari 7 item dari 15 orang yang diteliti ternyata yang mendapatkan nilai (100%) anak yang belum berkembang, (48,57%) anak yang mulai berkembang,  dan (32,17%) anak yang berkembang sesuai harapan.
2.    Pada indikator ke dua hasil belajar pada siklus ke II1 terdiri dari 4 item dari 15 orang yang diteliti ternyata yang mendapatkan nilai (100%) anak yang belum berkembang, (48,71%) anak yang mulai berkembang, dan (27,90%) anak yang berkembang sesuai harapan.
Tabel 4.9
Hasil Penilaian Kemampuan Merobek Siklus III

No
Indikator yang dinilai
Nilai yang diperoleh
BB
MB
BSH
1.
Membuat gambar dengan teknik merobek dengan memakai  media kertas.

4
34
64

Jumlah
0,6%
5,1%
9,6%
2
Membuat gambar   dengan teknik kolase dengan memakai media kertas

9
17
41

Jumlah
1,35%
2,55%
6,15%





Diagram Hasil Penialaian Kemampuan Merobek Siklus III
 

Gambar 4.3
Hasil Kemampuan Merobek Silkus III
















BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1                   Simpulan
1.    Guru mempersiapkan pembelajaran melalui perencanaan yang dilaksanakan adanya persiapan mengajar dalam bentuk Rencana Kegiatan Harian (RKH) dengan materi yang dikemukakan pada bab sebelumnya. Metode yang digunakan yaitu metode pemberian tugas. Jenis kegiatan adalah merobek dan menempel kertas. Pelaksanaan tindakan ini dilaksanakan tiga hari kelompok B di PAUD Nuurul Iman Tanjungsari dan persiapan pembelajaran yang telah direncanakan sebelumnya.
2.    Peningkatan kemampuan anak dalam pembelajaran merobek di PAUD Nuurul Iman  hasil kemampuan merobek setelah dilaksanakan pelaksanaan tindakan  pada siklus I anak yang berkembang sesuai harapan  (1,33%), pada Siklus II anak yang berkembang sesuai harapan  (2,53%), dan pada siklus III anak yang berkembang sesuai harapan (4,19%).
5.2                   Saran
1.    Sebaiknya pembelajaran merobek dan menempel kertas dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak dengan pemberian tugas.
2.    Kepada orang tua sebaiknya dapat memotivasi kepada anak didik untuk lebih giat belajarnya.
3.    Sebaiknya metode pemberian tugas dapat memudahkan anak didik dalam pekerjaan yang sengaja diberikan yang harus dilaksanakan dengan baik.
F OTO PENELITIAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar